
Kisah seorang pencari kerja
August 21, 2007
Iwan. Sahabatku waktu SMP. Sudah lima tahun aku tidak berjumpa dengan dia. Suatu ketika dia datang kerumah. Aku mengenalnya sebagai seorang yang pemalu dan pendiam. Namun, dibalik sifat pemalu dan pendiamnya itu dia dikenal sebagai bintang kelas, semasa SD dan SMP dia tergolong orang yang berprestasi, cerdas, dan pintar. Bayangkan nilai Ebtanasnya saja tertinggi diantara teman-temannya, Orangnya baik dan sopan. Orang yang mengenalnya dengan baik pasti menghormatinya. Setelah keluar dari SMP kami jarang bertemu. Paling hanya ketemu sesekali di jalan.
Iwan hanya mampu meneruskan belajarnya sampai SLTA. Keinginannya untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi tidak kesampaian, terbentur masalah klasik yang kian menjerit, yaitu, finansial. Sa’at temanku datang kerumah, penampilannya berubah, raut wajahnya terlihat muram, pakaiannya kusut dengan tubuh lemas dan tak bergairah, kurus. seperti biasa menyambut sahabat. Kedatangan Iwan kusambut dengan wajah ceria, senyum dan sapaan cinta penuh keikhlasan. Kupersilahkan masuk dan kusediakan jamuan ala kadarnya. Air minum dan snack yang kucampur satu piring dengan dua bungkus roti. Ya, seharusnya aku lebih memuliakan tamu, Bukankah Rasulullah saw dan para sahabat mencontohkan agar kita memuliakan tamu?
Percakapan kami pun berjalan penuh keakraban. Saling bercerita tentang kehidupan, saling cerita tentang cerita persahabatan. Kenangan masa lalu tak bisa kusembunyikan, semuanya jadi terbuka, mengalir begitu saja. Suka dan duka semasa SMP bagaikan kejadian kemarin saja. Terlebih sa’at Iwan bercerita dan akupun menyambung ceritanya.. semuanya tampak nyata, sa’at ada hal lucu yang kami alami kami pun tertawa. Wah, betapa mudahnya mengingat masa lalu. Dan aku semakin yakin bahwa betapa mudahnya Allah jika mengulang kembali semua memori kita selama di dunia. Makanya, Allah memberikan hari berbangkit untuk mengulng kembali hari-hari yang silam selama di dunia.
Setelah kami bernostalgia, aku mulai menanyakan aktifitasnya selama ini.
” justru maksud kedatanganku kemari, ingin mengisi kekosongan selama ini… ” tutur Iwan. ” setelah lulus saya tidak langsug bekerja, sehari – harinya hanya dirumah, tidak ada yang dapat saya lakukan. Baru beberapa bulan setelah itu ada tetangga yang mengajak kerja, itu juga sebagai Buruh bangunan. Kamu tahu sendiri, buruh bangunan capeknya minta ampun. Pagi berangkat, sore pulang. Seharian terpanggang oleh panasnya matahari. Lihat saja tanganku ini. Hitam. ” tutur Iwan sambil memperlihatkan tangan dan kulitnya. Hitam. ” kamu jangan kayak aku, jadi kuli bangunan. Masa depan suram. Pekerjaan berat. Semua orang pasti tahu kerja bangunan itu seperti apa, memikul batu, besi, kayu, semen dan barang-barang berat lainnya… ” ” terus sampai sekarang kamu jadi kuli bangunan?? ” tanyaku, memotong pembicaraannya. ” tidak… jadi kuli bangunan hanya berjalan beberapa bulan saja. Ya, itu tadi buruh bangunan tidak memiliki pekerjaan yang tetap, hanya sewaktu-waktu saja. Sekarang aku jadi pengangguran. Sudah cukup lama. Nyari kerja memang susah. Ya, mungkin kamu punya kenalan buat aku kerja??, kamu sih enak bisa kuliah. Masa depanmu sudah terlihat jelas. Sedangkan aku, masa depanku suram. Jangankan untuk masa depan untuk sa’at ini aja susahnya minta ampun. Usaha yang aku lakukan sih sudah maksimal. Aku nyari pekerjaan kesana kemari tapi hasilnya nihil, beberapa kali ikutan test masuk perusahaan tapi tidak diterima. Pengalamanku mencari kerja sudah banyak. Kamu tahu tidak, Zaman sekarang untuk mencari kerja benar-benar harus ada orang dalam. Pernah suatu ketika aku ikut test masuk kerja. Sa’at itu aku sudah optimis banget, karena aku yakin semua jawaban yang aku berikan benar. Tapi, hasilnya tetap saja tidak masuk. Malah ada seorang peserta test yang sa’at itu dia secara terus terang kepadaku, bahwa selama mengisi test tidak di isi dengan serius. Malah dia mengatakan test itu hanya formalitas saja. Dia percaya dia akan diterima karena sudah ada orang dalam. Memang benar, sa’at pengumuman dilakukan ternyata dia bisa masuk. Setelah kuketahui orang dalam itu ternyata pamannya yang di perusahaan tersebut sebagai supervisor. Aku jadi kecewa, kecewa akan ketidakadilan ini. Kamu tahu sendiri, aku mencari kerja bukan untuk menumpuk harta benda, tapi untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari orangtuaku. Sa’at ini juga aku masih memiliki hutang ke tetanggaku, aku meminjam uang untuk pergi mencari kerja, yang hasilnya bukan uang yang kudapat tapi malah menumpuk hutang…” tutur Iwan dengan panjang lebar, sekilas ku lihat wajahnya yang sayu, penuh kesedihan. ” Kamu sabar ya… wan, mungkin Allah swt sedang menguji kesabaranmu. Aku yakin di hari nanti akan datang kemudahan yang bisa kau nikmati, bukankah Allah swt berfirman bahwa sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan, sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan. Percaya deh.. aku juga tidak bisa berbuat banyak, maklum aku juga masih mahasiswa, hanya bisa memberikan support dan nasehat saja..” kataku, sambil menenangkan hati Iwan.