
3 month to be an entrepreneur
August 21, 2007Prolog: Herman adalah seorang mahasiswa semester tujuh di Unikbo, rajin sholat dan memiliki mental wirausaha yang cukup kuat. Sejak SMP ia sudah diajari berjualan, membawa dagangan orangtuanya ke sekolah. Tidak ada perasaan malu dan takut. Karena didikan orang tua serta kesungguhannya dalam berjualan, sampai sa’at ini masih ngotot untuk mencari uang lewat berjualan. Sa’at ini dia sedang liburan kuliah, dua bulan lebih lamanya. dia berfikir semester ini banyak waktu yang bisa dia gunakan diluar. karena sks kuliahnya yang diambil tidak terlalu banyak. Kebetulan sekali ada temannya bernama Zaky mengajaknya untuk berwirausaha. Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba, Herman menerima tawaran bisnis tersebut dengan hati gembira. Kini ia punya uang 8 juta. Cukup baginya menyewa kios dan membuka usaha kecil-kecilan.Usaha yang di bidik oleh Herman kali ini adalah usaha Juice buah. Herman berfikir jualan juice buah untungnya besar. Dan prospek sekali dipasarkan di Bogor, terutama di kampus UNIKBO ( Universitas Kebebabsan Bogor ), walaupun Bogor kota hujan tapi terkadang musim panasnya panjang. Namun, bukan alasan utama dia mengambil peluang ini, yang paling utama herman mengetahui bahwa usaha jus sebenarnya bukan hanya untuk mengurangi haus saja, seperti bentuk usaha minuman lainnya, akantetapi jus mengandung banyak sekali kandungan vitamin dan sangat baik untuk kesehatan, dia ngerti di Unikbo mahasiswanya mementingkan kesehatan, pasti usahanya laku keras.
Bulan ke 1
Herman hari ini sangat luar biasa semangat. Dengan buku agenda yang dibawanya dia pergi ke tempat pembuatan etalase. ” pak. Gimana etalase jus buah saya, sudah beres belum?? ” tanya herman, dengan gaya bak bos besar. ” sudah mas, itu tuh.. Etalase buat jualan jus kan? ” jawab pembuat etalase sambil berjalan kedepan ke arah etalase jus ukuran 2 M2 x 1,5 M2. lumayan besar untuk ukuran jus buah. Semuanya berlapiskan kaca dan alumunium putih. ”oke, sekarang saya lunasi bayarannya. kemarin saya sudah ngasih DP 250.000. Jadi sisanya 550.000, bener kan pak. ??” tambah Herman sambil mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Memang harga etalase disini lumayan murah. Untuk ukuran itu biasanya sampai satu setengah juta. Tapi, Herman hanya membuat etalase dengan mengeluarkan uang sebesar 800.000 rupiah saja. ” nanti saya tunggu di depan kios no. 55 Unikbo… jangan sampai kesorean ya pak, soalnya besok saya sudah mau jualan perdana.. ”. Setelah menyerahkan uang, herman lantas meninggalkan tempat etalase tersebut dan menyetop angkot jurusan pasar Bogor. Hari ini dia benar-benar capek. Pagi-pagi sekali sudah pergi kekios membereskan semua peralatan yang sudah siap untuk jualan jus, yang direncanakan besok. Semua peralatan jus seperti pisau, blender, kulkas dan peralatan lainnya sudah sudah disiapkan sedari kemarin. Hari ini dia hanya menyiapkan etalase dan belanja buah-buahan serta cup dan sedotannya.
Herman sudah pulang dari pasar. Nampak bungkusan cup dan sedotannya serta dua dus yang lumayan besar. Untung saja kiosnya dekat jalan, jadi dia bisa kangsung memasukkan belanjaannya kedalam kios, tanpa harus membawa lagi.
” Jambu merah 1 Kg, alpukat 1 kg, Nanas ½ kg, Mangga 1 kg, Durian, wortel, Jeruk, Belimbing, dan semangka… wah capek juga. aku baru bisa membeli ini untuk jualan besok… lagian besok aku hanya Promosi. Harganya pun tentunya harga promosi. Sepertinya masih ada yang kurang.. apa ya?? ” gumam Herman sembari mengingat-ingat semua keperluan yang kurang… ” O, iya. Gula!! Ya, allah.. lupa sekali aku ini.. ” gerutu herman sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Lalu keluar dari kios untuk mencari gula.
Malamnya herman merinci semua pengeluaran yang di gunakannya untuk memnyediakan perlengkaapn jualan jus buah. Di total semuanya. 1.520.000 ( Satu juta lima ratus duapuluh ribu rupiah. ) Belum di kurangi renovasi bangunan kios sebesar 500.000 ( lima ratus ribu rupiah. ) Dan uang sewa empat juta, yang baru dibayar tiga juta. Total semua yang dikeluarkan sa’at ini. 5.520.000. ”masyaallah besar juga.” pikirnya Uang sisa hanya 2.480.000.
***
Hari pertama ia jalani dengan semangat yang menggebu-gebu. Beberapa cup ia bagikan ke orang-orang yang ia kenal dekat. Tak lupa beberapa tetangga kios ia beri. Harga yang ditawarkannya pun lumayan murah. Hanya 3.000 Rupiah. Padahal normalnya harga jus buah berkisar 3.500 sampai 5.000 Rupiah. Ini memang strategi pemasaran yang herman lakukan. Semuanya berjalan lancar. Dan hasilnya menggembirakan. Beberapa hari banyak konsumen yang datang ke kiosnya dan membeli jus buah khas herman.
Waktu terus berjalan. hari berganti hari. Manusia-manusia bumi menyebar dipermukaan bumi dengan aktifitasnya masing-masing, sesuai pekerjaannya. kebaikan dan keburukan selalu mengiringi kehidupan manusia. Semuanya bertebaran dengan macam-macam cara manusia menjalaninya. Begitu juga Herman, ia dengan kesabaarn dan keikhlasan menjual jusnya dengan perasaan bangga. Ia mulai terlihat sibuk. tapi, herman tidak melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah. sesekali menginfakkan uangnya, tetap melaksanakan sholat lima waktu. Terkadang rela menutup kiosnya untuk sholat berjama’ah dimasjid. Maklum ia tidak mencari pegawai untuk menjaga kiosnya. Jadi, ia harus bertarung sendiri menjaga kiosnya.
hari berganti hari. nampaknya Herman mulai kelelahan menghadapi konsumen yang semakin hari semakin banyak, ia mulai melupakan sholat berjama’ah, waktunya habis meraup uang yang semakin hari semakin banyak. ” sudah hampir sebulan aku berjualan. Dan nampaknya usahaku berjalan lancar. Banyak pelangan yang membeli jus buatanku. Ha..ha.. rupanya aku bakat juga menjadi bos jus..” dengan perasaan bangga dan merasa segala-galanya adalah kerja keras dari usahanya. ” aha, sebulan ini aku sudah mendapat untung dua juta. Bersih. Setelah kubagi dengan si Zaky… hm, nampaknya aku harus mencari pegawai. Aku akan jadi Bos!! ” pikirnya. akhirnya Herman mencari seorang pegawai, dan didapatnya seorang perempuan berumur belasan tahun, baru lulusan SLTA. Cantik dengan pakaian gaulnya, kerudung yang dililitkan kelehernya.
Bulan 2
” gimana Ranny kerja disini betah gak?? ”
tanya herman kepada Intan yang tak lain adalah pegawai barunya.
” ya… Gimana ya kak. Baru juga tiga hari. Belum kerasa betul. Tapi enak juga sih kerja disini. Bosnya baik. Mahasiswa lagi…” jawab Intan, dengan nada menggoda. Rupanya Intan memiliki perasaan lain, bagaimana tidak. Selama tiga hari ini dia berdua dikios bersama seorang mahasiswa yang parasnya ganteng, putih, bercambang lebat, meski tubuhnya kurus. Walaupun dikios yang suasananya tidak romantis kalau ditemaninya seorang jejaka ganteng, siapa yang gak bahagia. Terlebih dia seorang Bos. Walaupun bos kecil-kecilan. Hari – hari berikutnya di warnai dengan canda ria sang bos dengan pegawainya, malah sesekali Herman mengantarkan Intan kerumhnya sepulang jaga dikios. Perlahan-lahan Herman melupakan kewajibannya sebagai muslim. Sholat subuh ditinggalkan, ia berdalih tidak sempat sholat subuh, karena sa’at subuh dia masih berada dipasar. Padahal sebulan yang lalu juga seperti itu, tapi dia sempat sholat subuh, entah sholat dipasar atau dikost sebelum berangkat belanja. Dzuhur pun di lupakannya, dia beralasan harus menjaga kios, karena Intan datang kekios jam dua bahkan lebih. Walaupun sebenarnya jadwalnya jam satu, tapi herman tidak merasa rugi. Malah sa’at Intan datang bukannya bersegera kemasjid. Malah asyik ngobrol dengan pegawainya.. pernah suatu ketika seorang wanita berjilbab lebar berniat membeli jus tapi mengurungkan niatnya, karena di dalam melihat Herman dan Intan sedang berpelukan. Tapi, memang hawa nafsu sudah meracuni pikiran Herman, ia tidak memperdulikan lagi dagangannya. ” wuh, mau beli jus aja sok alim.. mang dia siapa, gak bakal rugi daganganku walaupun tidak dibeli kamu..” begitu ucap Herman sa’at mengetahui pelanggannya tidak jadi membeli jus. Ternyata Herman sudah berubah. Ia tidak lagi menjaga sopan santun dan aturan agama. Ia merasa sudah menjadi besar.
Hal itu berjalan selama dua minggu.
Suatu sa’at, sebuah Jip berhenti di depan kios Herman. keluarlah beberapa lelaki, Herman segera melayani empat lelaki yang terlihat beringas yang dikiranya hendak membeli jus khas miliknya. ” mau jus apa mas?? ” tanya sopan herman. ” jus..jus… gua minta jus kepalamu tuh.. belga banget sih luh!!” sambil setengah berteriak lelaki itu menjawab disertai dorongan tangannya. Jelas saja tubuh kecil kurus Herman terdorong sampai terjatuh. ” ma’af mas apa salah saya?? Kenapa mas seperti ini?? Mas mau meminta uang?? ” dengan perasaan kaget, heran dan sedikit ketakutan Herman meminta alasan lelaki yang mendorongnya hingga terjatuh..” gua kagak butuh uang, gua udah kayak… dan salah kamu!! Kamu merebut pacar gua.. mana Intan. Hah.. dimana dia? Kamu mahasiswa tak tahu diri.. pegawai kamu sendiri kamu pacarin.. dasar tak bermoral!! ” bentak lelaki yang sedari tadi melototi herman, yang mengaku pacar Ranny. ” hah, pacar Ranny? Saya.. saya tidak pacaran pak! ” dengan tersendat bercampur gagap Herman berkilah. ” kepala lu gak pacaran! Lu peluk-peluk Intan apa itu bukan pacaran?? Dasar kurus… Bos kere!!.. mana dia? Dimana intan. ” bentak Lelaki yang sedari tadi tanpak menggebu-gebu. ” Dia… dia sudah pulang. Kalau hari minggu Ranny memang tidak sampai malam. Ia sudah pulang dari sore tadi.. ma..ma’af bang saya tidak tahu dia pacar abang!!” dengan gemetar herman menjawabnya sambil terbata-bata. Tiga orang lelaki lainnya langsung masuk kios dan menghajar herman yang sedari tadi ketakutan dan sempoyongan di pojok kios. ” alah banyak bacot luh.. ni rasain.. ” bak..buk..bek. twing.. pak..pok..pek!! ” waduh.. ah.. ampun.. bang!! Ampun…” Herman jadi bulan-bulanan pacar Ranny dan teman-temannya, sembari mengobrak-abrik semua buah-buahan yang ada dikios. Etalasenya yang masih terlihat manis, dihantam dengan sebatang balok. Cukup keras pukulan orang itu, yang akhirnya memecahkan etalase tersebut… dari kejauhan orang-orang sekitar melihat kejadian itu dan ramai-ramai mendatangi kios herman. Melihat orang berdatangan lelaki yang merasa puas merusak kios dan dagangan herman segera berlarian dan menaiki mobil yang sedari tadi di parkir di depan kios. Di pojok masih terlihat herman dengan memar di mukanya, masih tersungkur dan merintih… kesakitan.
Bulan ke 3
Herman menyesali perbuatannya selama ini. Akhirnya ia pasrah. ia kembali bangkit menyusuri jalan yang selama ini ia tinggalkan. Ia telah kufur ni’mat. Ia telah takabbur, baru saja diberi kenikmatan yang sedikit sudah sombong. Bagaimana bila diberi yang lebih besar dari itu, tentu saja akan lebih dahsyat keingkarannya. Herman juga manusia biasa, bisa lupa dan khilaf.
Maka di sa’at malam yang sunyi, ia tersungkur mengharap Ampunan-Nya, mengharap hidayah-Nya, Petunjuk dan Lindungan-Nya. ”mulai sekarang aku akan kembali kepada-Mu, menyucikan jiwaku yang selama ini kukotori, ya, Allah ilahi Rabbi… terimalah taubat hamba-Mu yang dilumuri dosa ini, kembalikanlah diri ini kepada pangkuanMu, disisiMu…” air mata herman tak tahan tersimpan dikelopak matanya, dan akhirnya berjatuhanlah bening-bening putih, membasahi sajadah cinta yang senantiasa menjadi saksi pengakuan kekhilafan seorang herman. Esok harinya ia azamkan untuk menata kembali hidup yang baru.
Kiosnya yang hancur berantakan ia tata kembali satu persatu, etalasenya yang hancur ia pasang kembali seadanya.
Dua hari setelah kejadian itu ia kembali berjualan. Kali ini ia pasrahkan dagangannya kepada Allah swt, ia hanya berusaha mencari nafkah. Sa’at azan berkumandang ia tinggalkan kiosnya, hanya secarik kertas yang ia tinggalkan dengan tulisan : Ma’af, kami tidak melayani pembuatan jus sa’at ini. Kami sedang Sholat!! Demikian. Beberapa pembeli yang akan membeli ternyata memahaminya, malah ada beberapa yang bersedia menunggu sampai herman datang. ” subhanallah, ternyata rezeqi itu tidak kemana. Walaupun aku tinggalkan untuk sholat, kalau saja itu rizkiku tetap akan datang. Allahu Razaqan. Sujud syukurku padaMu ya Allah.. ” ucap herman memuji keagungan tuhanNya. Selain itu dalam mematok harga herman tidak terlalu tinggi. Malah ia serahkan kepada pembeli mau membayar berapa saja.
” harganya berapa mas?? ” tanya seorang laki-laki berjenggot tebal dengan mengenakan jubah putih, nampak bekas hitam di keningnya. ” bapak punya uang berapa? Biasanya orang membayar tiga ribu per-cup, tapi terserah bapak bisanya berapa saja… ”. Jawab herman dengan mantap. Tentu saja si lelaki tadi kaget bukan main, hari gini masih ada pedagang yang seperti ini. Bukankah hanya terjadi sa’at Zaman Rasulullah ??. memang sa’at Rasululah s.a.w berdagang. Muhammad s.a.w tidak mematok harga, ia terkenal kejujurannya. Makanya dijuluki ash shidiq. Sedangkan sa’at ini? Disa’at orang mati-matian mencari uang. Disa’at orang berlomba-lomba mencari harta. Disa’at para pengusaha mencari untung sebanyak-banyaknya. Disa’at dunia telah kembali hinggap di hati umat manusia. Al Wahn.. cinta dunia dan takut mati. Tapi masih ada juga seseorang yang menjual dagangannya dengan menyerahkan berapa saja bayarannya. ” ah.. mas ini gimana, saya tidak bisa begitu. ini saya bayar lima ribu, kebetulan tadi saya dapat rizqi. Saya do’akan semoga Allah swt melapangkan rizki anda. ” lanjut pembeli itu sambil mengeluarkan uang lima ribuan. Dengan perasaan sedikit mengharu biru. Allahu akbar! Bukannya kerugian yang didapat herman, tapi malah sebaliknya ia mendapatkan yang lebaih dari itu, malah di do’akan. Betapa agung Allah swt.
Hari ke hari ia lakukan dengan istiqomah. Akhirnya jus nya kembali ramai. Malah dia sekarang telah mengangkat dua orang lelaki yang menjadi asistennya, melayani pembeli, menemaninya kepasar dan bersama-sama melaksanakan sholat berjama’ah.
Akhirnya tiga bulan berlalu.
Epilog: Herman kini ia telah membuka kembali satu kios di tempat yang berbeda. Ia namakan kiosnya dengan sebutan Jus magfiroh. Ia berharap selalu dalam kasih sayang dan ampunan Allah swt. Bukan hanya tiga bulan saja tetapi selamanya. Untuk selamanya dalam ampunan-Nya.
( Persembahan untuk para entrepreneur muda. Semangatlah, Indonesia masih membutuhkan kita. Pengangguran masih menjamur. Bangkitlah, kembali ingat seorang sahabat Rasul. Abdurrahman bin auf. Jangan terjatuh sa’at mendapat cobaan, semua itu hanya kerugian sementara. Jangan terjebak oleh gemerlapnya dunia.. yang melenakan… )