Sabtu, 28 Juli 2007
OLeh : Kang Sum
Malam ini sunyi sekali. hanya terdengar suara jangkrik, bersahutan satu sama lainnya. Aku terbangun, dengan mata yang terasa berat, kupaksakan bangun. Wussh! Angin malam begitu terasa, masuk kedalam ruangan madrasah dimana aku tidur, masuk menerpa seluruh ruangan dan menembus pori-pori kulitku. Aku kedinginan, Aku tidak langsung bangkit dari tempat tidurku. Hanya terduduk. Terpaku melepas ’lelah’ dalam tidur. Dari dinding madrasah, kuperhatikan jarum jam yang setia berputar.
”Jam 01.45,” gumamku.
Di madrasah ini, aku memang tinggal, sudah hampir 1 tahun aku tinggal bersama ustd. Asep yang setia mengurus madrasah ini. Madrasah ini hanya terdiri dari tiga ruangan dua ruangan untuk ”ngaji” dan satu lagi untuk tempat kitab-kitab sekaligus sebagai kantor, dimana di lakukannya rapat-rapat kecil untuk kemajuan madrasah dan Masjid Al Kautsar. Ya. Masjid Al-kautsar adalah masjid yang menyatu dengan madrasah kami. Madrasahnya pun dinamakan madrasah Al kautsar. Karena, memang madrasah ini menyatu dengan masjid ini. Dengan begitu selain mengurus madrasah, kami pun mengurus masjid, kami menyebutnya DKM Al Kautsar. Dibantu beberapa santri madrasah dan jama’ah, kami kelola masjid dan madrasah ini dengan penuh cinta, keikhlasan dan mengharap ridho-Nya. Tidak lebih. Tanpa imbalan apapun, walaupun kami tahu bahwa pengurus masjid memiliki hak diberikan imbalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti Imam – imam masjid besar yang digaji perbulannya. Pengurus masjid juga kan harus makan dan memiliki kebutuhan, tapi sudahlah kami memang tidak mengharapkan itu semua, karena yang kami inginkan adalah syurga dan keridhoan-Nya.
Sudah lima menit aku termenung. Perlahan-lahan aku menggerakkan tanganku, menggerak-gerakkan kepalaku kekanan dan kekiri, sesekali terdengar tulang rusuk badanku yang kelelahan setelah seharian penuh dipakai beraktifitas, tubuh ini sudah semalaman beristirahat, dan mulai pagi ini siap untuk di tugaskan kembali. Aku bangkit menuju tempat wudhu’. Chess..! air dari kran yang kukucurkan menyentuh tanganku.. Dingin, sangat dingin. Tapi aku yakin Allah menyaksikan ini. Allah akan membalasnya dengan pahala. Air ini akan bersaksi akan kesungguhanku.
”Bismillahirrahmanirrohim.” aku wudhu.
Kubersihkan kedua tanganku, sela-sela jari yang tampak kedinginan. Kubasuh mukaku yang tampak bekas-bekas tikar.. alhamdulillah… terasa sejuk, walau sebenarnya dingin meyelusup tulang sum-sum… lalu tanganku… dan semua anggota tubuh yang seharusnya aku basuh. Sembari wudhu’ tak lupa aku baca do’a-do’a penghapus dosa. Dosa yang dilakukan oleh tanganku, oleh wajahku, lisanku, pendengaranku, mataku, dan kaki kemana telah kupakai melangkah. Sepertiga malam terakhir memang dingin. Fikirku dalam hati. Tapi, Ini manusiawi, merasakan dinginnya air malam, dan karena inilah Allah memberikan keutamaan yang luar biasa disepertiga malam. Dan disa’aat – sa’at seperti ini, aku senantiasa teringat kembali akan perjuangan Rasulullah. Dimana setiap malam beliau berwudhu, melakukan sholat Tahajjud. Padahal Rasulullah adalah seorang Nabi yang sudah dijamin masuk Syurga, kenapa melakukan semua itu? Terlebih daerah Arab yang terkenal hawa dinginnya sa’at malam hari… bahkan, Rasulullah melakukan tahajjud sampai kakinya bengkak-bengkak. Sungguh pengabdian yang luarbiasa, sebuah rasa syukur yang teramat dalam, rasa cinta yang tak terkira. Rasulullah manusia sempurna, contoh kan ummat. Setelah mengingat sang Rasul, jiwaku pun terasa hangat, hangat dan menjulur keseluruh tubuh, akhirnya kurasakan kehangatan berdampingan bersama Rasulullah. Akupun tersenyum. Sejuk.
Selesai berwudhu’ aku bergegas masuk kedalam masjid. Mengganti baju yang kupakai dengan baju koko berwarna putih kesukaanku, harum kesturi wanginya yang sedari siang ku oleskan diseluruh tubuh dan baju koko ini, harum itu masih menempel di baju.
”Merek apa nih? parfum yang bagus…, hmm, wangi..”. gumamku.
Setelah itu sarung yang berwarna coklat kotak-kotak kupakai. Aku berjalan kedepan tepat ditempat biasa imam sholat. Kuambil sajadah yang tergeletak di bawah mimbar. Lalu kuhamparkan. Malam masih sunyi, suara jangkrik sedikit demi sedikit menghilng, seakan tahu akan ada seorang hamba Allah yang hendak bercinta dengan Penciptanya. Seorang hamba Allah yang menginginkan Bidadari syurga. Ya, Bidadari yang di-Impi-impikan oleh ummat Muhammad S.A.W. Satu, dua ekor nyamuk nakal menggigit tanganku. Sakit. Tapi inilah shadaqohku untuk nyamuk, mudah-mudahan dengan sedikit darah yang mengalir dalam tubuhku dapat membantu nyamuk bertahan hidup, sebelum manusia menyerbu, menyerang atau menyemprotkan zat racun pembunuh serangga.
Dengan kesungguhan dan niat yang tulus. Aku mengangkat kedua belah tangnku. Dan.
”Allahu akbar…!!!” aku bertakbir.
Malam yang indah. Hening. Aku merasa tenang dan tentram. Dalam hati yang bersih ku ucapkan do’a Iftitah, lalu diteruskan dengan surat al Fatihah. Lirih bacaanku. bersuara tapi tak terdengar. Dengan khusyu’… Surat pendek Juz ’Amma kubacakan, kali ini aku membaca surat al Infithor. Kubaca dengan perlahan-lahan bak sedang membaca surat cinta dari sang kekasih. Atau seperti halnya seorang pendamba cinta membaca sms dari sang pujangga idamannya. Ayat demi ayat ku hayati.. Ayat suci penuh arti. Tiap kata penuh makna. ayat-ayat dibacakan. Al Qur’an diturunkan dari langit dengan berbagai nilai didalamnya. Tak terasa air mataku meleleh… jantung terasa berdebar-debar. Air mata mengalir deras di pipi, mengalir tanpa arah, semakin lama semakin bergemuruh. terasa semakin deras, Rasa kantuk yang menyelimuti seakan lenyap tergantikan oleh sesuatu yang lebih dahsyat.
”Apabila langit itu pecah, Dan apabila bintang-bintang itu jatuh berhamburan, Dan apabila lautan itu diluapkan, Dan apabila kuburan-kuburan itu dibongkar ( dikeluarkan isinya), Maka setiap jiwa mengetahui apa yang telah dilakukan dan yang dilengahkan…..”
Jiwa ku bergejolak,
”ada apa ini…??” pikirku dalam hati.
Semakin ku resapi ayat demi ayat, hati ini semakin gerimis, lama kelamaan tangis pun membuncah. memekikkan takbir yang teramat dalam. Seandainya aku masih kecil, seandainya masjid ini kedap suara, seandainya teriak dimalam hari itu tidak dilarang, maka, aku akan berteriak menangis dengan setangis – tangisnya. Karena betapa bergemuruhnya jiwa ini. Ya allah… Inilah malam sepertiga itu… inilah Rahmat Allah, yang Allah turunkan… inilah salam dari para malaikat yang turun kebumi. Salam untuk kekasih yang sangat mencintai dan dicintaiNya. Menyalami manusia-manusia yang tersungkur dan bersujud menghiba kepada tuhanNya. Merasa kecil dihadapanNya. Merasa tak berdaya dihadapanNya… semakin lama, semakin terlarut dalam kesedihan… saat mengingat dosa-dosa yang selama ini dilakukan. Sa’at kemunafikan menyelimuti jiwa. Saat janji telah diingkari. Sa’at kereta ba’iat dibiarkan pergi… dan masih banyak wajah-wajah kemaksiatan menghiasi hari-hari yang lalu.
Akhirnya sembilan belas ayat, surat Al infithor selesai kubaca. Sholat pun kuteruskan dengan Ruku’… sujud… i’tidal… dan semua gerakan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw selama sholat, tak dilebih-lebihkan dan tidak dikurangi pula. Tanpa henti – hentinya air mata bercucuran membanjiri sajadah yang kupakai untuk sholat. Tangisku tidak berhenti sampai raka’at kedua, malah semakin deras.. terlebih sa’at raka’at kedua, aku bacakan surat al Qori’ah. Wajahku semakin penuh dengan tetesan air mata. Surat-surat seperti inilah yang menjadikan hati menjadi luluh, lembut dan jiwa menjadi teduh.
Diluar suasana semakin sunyi, semakin senyap.. sesekali terdengar suara burung ’malam’ mendendangkan suaranya, mengiringi jiwa-jiwa yang bersyukur kepadaNya, mengiringi dengkuran manusia-manusia yang mendengkur, mengiringi berjuta pasangan suami-istri memadu kasih, mengiringi bayi yang menangis terbangun dimalam hari… inilah cintaNya, inilah kasih-sayangNya… aku semakin yakin bahwa di sepertiga malam terakhir, Allah menurunkan RahmatNya.. diiringi para malaikat yang ikut meramaikan suasana langit dengan menurunkan Rahmat dan KaruniaNya..
Aku semakin terbawa oleh gelapnya malam, tersihir oleh suasana dan indahNya ayat-ayat suci yang kulantunkan…
Namun, sa’at hati ini berjumpa denganNya, sa’at aku bercinta denganNya, tiba-tiba kepalaku pusing, pandangan terlihat samar-samar, aku tak mampu melihat dengan jelas lagi arah sujudku, bacaan alQur’anku semakin terbang… dan, Gelaplah semuanya. Ya, semuanya menjadi gelap.
***
Aku terbangun. Kulihat sekeliling. Terlihat aneh dari biasanya. Suasananya tempat ini tenang jauh dari kebisingan, berbeda dengan suasana hari-hari biasa ditempatku, walaupun dimasjid tetap saja tidak merasa tenang, karena bisingnya suara kendaraan, baik mobil maupun motor. Tempat ini tumbuhannya rindang dan indah. Pohon-pohon dengan buahnya yang lebat, tanah-tanah yang halus bak perak yang terbuat dari mutiara. Tanah ini berkilau. udaranya harum. Dan air itu, air yang mengalir dari mata air yang deras, tapi jelas terlihat jernih. Sungai mengalir, sepintas seperti air susu, tapi, tidak mungkin. sungai mana airnya air susu. Mungkin aku salah. Dari kejauhan kulihat sekumpulan orang yang asyik bersuka ria, mereka sepasang suami-istri tampaknya, mereka bergembira bahagia, bermesraan tanpa batas, tak tampak kesedihan sedikitpun, wajahnya cerah berseri. Mereka bahagia disini. Seketika aku kaget, Disampingku sudah ada sesosok pemuda. Yang mungkin umurnya tidak jauh beda denganku. Masih muda. Wajahnya begitu bersih, bercahaya dan sangat tampan.
”Subhanallah” gumamku dalam hati.
Lelaki ini sangat tampan, memiliki celak dimatanya. Kumisnya tipis, warna kulit hijau dengan tubuh yang kekar, tidak tinggi juga tidak pendek, rambutnya indah. Sorot matanya tajam, namun penuh dengan kesejukan. Ia tersenyum, seakan mengerti apa yang aku pikirkan.
”wahai saudaraku, nikmatilah… rasakanlah… puaskanlah kau disini, karena kau hanya sebentar disini, kau hanya mampir… reguklah air keshalehanmu, pandanglah indahnya imanmu, kecuplah rasa rindumu..” demikian kata-katanya, dengan mulut yang mengeluarkan wangi harum melebihi wanginya kesturi. Sejenak aku tertegun. Aneh sekali kata-kata orang itu? Lalu aku berdiri, berjalan dengan tertatih. Kepalaku masih terasa berat. Pemuda yang tadi memandangiku dan mengatakan kata-kata aneh sekilat telah pergi, pergi entah kemana.
Aku terus berjalan, menyusuri tempat yang teramat sayang untuk dilupakan. Setelah beberapa lamanya berjalan. Perutku terasa perih, Aku lapar sekali. Sejenak aku berhenti berlalu, dengan jelas didepanku berdiri kokoh pohon yang terasa asing.. pohon ini belum pernah kulihat sebelumnya, tapi buahnya teramat lebat.
”mudah – mudahan buahnya bisa untuk dimakan…” pikirku.
Semakin dekat, aku berhenti.
” ini buah apa ya??.. kok aku belum pernah melihat pohon semacam ini, juga buahnya yang berwarna indah ini. Ah, aku lapar sekali” pikirku dengan rasa heran.
Sejenak aku ingat kata-kata orang tadi. O, mungkin taman ini milik pemuda tadi. Jadi, ini yang dimaksud aku harus menikmati dan memuaskan disini, sudahlah yang penting aku menikmati buah ini. Satu per satu aku petik dan aku makan.
”Mmm…., wah enak!! Subhanallah baru kali ini aku makan buah ini ’maknyoz’…”
Beberapa buah aku makan. Tapi aneh, sekali lagi ada keanehan.. kok aku gak kenyang – kenyang ya…yang ada hanya rasa enak yang sangat enak yang kurasakan. Semakin menambah buah, buah yang berikutnya semakin enak. Tidak ada perasaan puas, bebrapa sa’at aku berada ditempat itu. Akhirnya aku nyerah, sudah ah. Tapi, kenapa ya. Kok buah ditempat yang aku makan tidak habis-habisnya. Aku berjalan lagi. menuju sungai yang membuat aku penasaran, dari kejauhan sungai ini sangat indah dengan warna air: putih susu. Putih sekali. tiba-tiba. Allahuakbar!!. Subhanallah… Mahasuci engkau ya Allah.. benar dugaanku, ternyata benar sungai ini adalah sungai air susu. Tersungkur aku bersujud. Menangis…!! Kali ini perasaan takut bercampur senang. aku berjalan lebih dekat, lalu perlahan kuturunkan lenganku, menciduk air yang mengalir. Segera aku masukan ke mulutku yang sejak tadi merasa kehausan.
”Allahuakba…r!!” Kembali aku bertakbir..
”Air ini.. air ini.. benar…benar… air ini benar-benar air susu… dimanakah aku?? ya, Allah.. dimanakah aku..??”
aku langsung berlari-lari… dikanan dan dikiri hanya terlihat keindahan-keindahan, pemandangan – pemandangan yang sangat menyejukkan mata, hijau, harum baunya. Merasa sudah jauh, aku berhenti. lalu berjalan dengan setengah sadar. Sesaat kulihat ada sejenis kursi, rasa lelah dan letih membuatku terduduk dikursi tersebut. Subhanallah!! sebuah kursi yang indah sekali, memiliki cahaya yang sangat menakjubkan. Terasa duduk dikursi dengan di kelilingi oleh permaisuri-permaisuri, nyaman sekali. Sekonyong-konyong kulihat ada yang datang. Semakin dekat… dan dekat. Aku terdiam. Diam seribu bahasa. Tak ada sepatah kata pun yang dapat aku ucapkan. Hatiku berdegup kencang, bergemuruh… serasa melayang-layang, terbang diatas bunga yang indah. Ya. Di depanku kini berdiri seorang gadis yang sangat cantik. Cantik sekali. rambutnya terurai panjang. Wangi khas mengiringi kedatangannya. Wajahnya… bagaimana bisa aku mengatakannya, ayu manis, bercahaya. Memancar sinar yang menyejukkan jiwa. Tubuhnya indah, dibalut oleh kain putih yang terurai terbawa angin. Bibirnya tipis manis. Aku tidak bisa bergerak… hatiku bergetar. Dengan gugup aku bertanya padanya.
”si..siapa anda?” dengan bergetar dan terbata-bata.
”salam bahagia bagi hamba yang senantiasa mengabdi kepada tuhanNya. Aku adalah hadiah yang diberikan tuhanMu dan TuhanKu.” jawab perempuan itu, sembari menyunggingkan senyuman yang manis.
Aku tak kuasa menahan getar jiwa ini, ingin rasanya kupeluk gadis ini, ingin rasanya aku memegang tangan halus nan putihnya itu.
”tapi, aku mohon ma’af untuk sekarang aku tidak bisa kau sentuh, aku tidak bisa kau miliki. Suatu hari nanti, sa’at tuhanMu memang mengizinkan kau menyentuhku aku rela bersamamu. Segala keinginanmu akan aku penuhi…” lanjutnya, seperti mengerti apa yang aku pikirkan.
Gadis itu lalu berjalan kembali, meninggalkan aku. Aku yang sedari tadi berdiam diri, tersadar bahwa gadis cantik yang dihadapanku hendak meninggalkanku. Seorang gadis manis yang nyata-nyata ada didepanku. Aku berlari mengejarnya sambil berteriak-teriak, memanggil-manggilnya.
”wahai bidadariku… wahai bidadariku…. kembali… kembali…!!”
Dengan perasaan cemas tak menentu, aku terus berlari, sekuat tenaga.. berlari menembus bayang-bayang.. berlari menembus khayalan, semakin jauh….jauh… dan jauh. tak sengaja aku tersandung sesuatu. Dan aku pun terjatuh. Pandanganku terasa kabur…, lama-kelamaan semakin buram. dan, Gelap. Semuanya gelap.
***
Aku diam, jantung terus berderap kencang, ketakutan yang tiada tara. Tiba – tiba terdengarlah suara ust. Asep memanggil-manggil.
”Farhan.. farhan…, bangun han. Bangun… bangun mujahid. Bangun anakku…!!” panggilan itu semakin jelas, dan sayup – sayup terdengar lantunan ayat suci alQur’an, tasbih, tahlil dan tahmid.
Entah ada apa… akupun membuka mata dan kulihat orang ramai di sekellilingku, ust. Asep yang tepat disampingku terlihat mendekatkan mulutnya ketelingaku, seraya membaca do’a-do’a pengobat jiwa.
”ada apa ini ustadz..?? ada apa ini? Kenapa banyak orang disini?”
tanyaku, sambil melirik-lirikkan mata kesekelilingnya dan memperhatikan orang-orang yang memperhatikanku. Kulihat wajah-wajah cemas nan kasihan yang mengarah kepada ku.
”Kamu tadi pingsan Han. Setelah shalat subuh kamu langsung tergeletak, tak sadarkan diri. Kami jama’ah shalat subuh sangat khawatir. Kami langsung membawa kamu ke madrasah. Dan berusaha membangunkanmu. Tapi, kamu tidak bangun – bangun. Kamu pingsan dari setengah lima sampai sekarang. Jam enam. Makanya tetangga-tetangga semua pada datang. Kamu memang kenapa Han?, sedari pingsan kamu hanya menyebut syurga… syurga.. allah.. allah… bidadari… bidadari… dan kamu seperti melihat sesuatu yang belum kamu lihat dan berteriak seraya bertakbir tiada henti.” jelas ust Asep.
”sholat subuh? Saya belum sholat subuh ustd, tadi saya hanya bangun malam untuk sholat tahajud, tiba-tiba kepala saya merasa pusing dan setelah sholat tahajjud selesai saya berada di suatu tempat yang entah dimana….”
Lalu kujelaskan semua kejadian di sepertiga malam tadi, sejak pertemuanku dengan seorang pemuda sampai pertemuanku dengan seorang gadis yang sangat cantik. Semua yang mendengar paparanku terdiam, seolah telah tersihir oleh rayuan sang penggoda, sebagian orang melelehkan air mata, begitupun ust. Asep kulihat matanya lembab. Seraya berkata
”kamu sudah dibawa ke taman syurga anakku, kamu mendapatkan rezki yang teramat besar, kamu diajak bercinta dengan suasana disana… bersyukurlah anakku. bersyukurlah…”
Akupun diam. ya, benar…, syurga. aku tadi ketaman syurga… aku sudah merasakan nikmatnya syurga. harumnya pun masih tercium, wangi… wangi…. sekali!! Syurga yang selalu hadir di pelupuk mata, bagi siapa yang berIman. Bagi siapa saja yang bertaqwa. Ah, indah benar.
Aku telah bercinta disepertiga malam. Dan suatu sa’at nanti, aku akan kesana lagi. ke-Syurga. mengucap salam dengan penduduk syurga. bercinta dengan bidadari, memadu kasih seperti mereka yang bahagia, bahagia di alam Syurga.
Tamat
Abu Hurairoh r.a dari Rasulullah s.a.w, beliau bersabda:
”Allah turun kedunia setiap malam, pada sepertiga terakhir malam. Kemudian Dia berkata: Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri, siapa yang memohon ampunan-Ku, Aku ampuni”
Semoga Allah membalas dengan indahnya syurga. amiin. Baca surat-surat pendek, surat Muhammad ayat 15, dan ayat-ayat alQur’an lainnya tentang keindahan Syurga.


