h1

bercinta di 1/3 malam

August 21, 2007

Sabtu, 28 Juli 2007

OLeh : Kang Sum 

Malam ini sunyi sekali. hanya terdengar suara jangkrik, bersahutan satu sama lainnya. Aku terbangun, dengan mata yang terasa berat, kupaksakan bangun. Wussh! Angin malam begitu terasa, masuk kedalam ruangan madrasah dimana aku tidur, masuk menerpa seluruh ruangan dan menembus pori-pori kulitku. Aku kedinginan, Aku tidak langsung bangkit dari tempat tidurku. Hanya terduduk. Terpaku melepas ’lelah’ dalam tidur. Dari dinding madrasah, kuperhatikan jarum jam yang setia berputar.

”Jam 01.45,” gumamku.

Di madrasah ini, aku memang tinggal, sudah hampir 1 tahun aku tinggal bersama ustd. Asep yang setia mengurus madrasah ini. Madrasah ini hanya terdiri dari tiga ruangan dua ruangan untuk ”ngaji” dan satu lagi untuk tempat kitab-kitab sekaligus sebagai kantor, dimana di lakukannya rapat-rapat kecil untuk kemajuan madrasah dan Masjid Al Kautsar. Ya. Masjid Al-kautsar adalah masjid yang menyatu dengan madrasah kami. Madrasahnya pun dinamakan madrasah Al kautsar. Karena, memang madrasah ini menyatu dengan masjid ini. Dengan begitu selain mengurus madrasah, kami pun mengurus masjid, kami menyebutnya DKM Al Kautsar. Dibantu beberapa santri madrasah dan jama’ah, kami kelola masjid  dan madrasah ini dengan penuh cinta, keikhlasan dan mengharap ridho-Nya. Tidak lebih. Tanpa imbalan apapun, walaupun kami tahu bahwa pengurus masjid memiliki hak diberikan imbalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti Imam – imam masjid besar yang digaji perbulannya. Pengurus masjid juga kan harus makan dan memiliki kebutuhan, tapi sudahlah kami memang tidak mengharapkan itu semua, karena yang kami inginkan adalah syurga dan keridhoan-Nya.

            Sudah lima menit aku termenung. Perlahan-lahan aku menggerakkan tanganku, menggerak-gerakkan kepalaku kekanan dan kekiri, sesekali terdengar tulang rusuk badanku yang kelelahan setelah seharian penuh dipakai beraktifitas, tubuh ini sudah semalaman beristirahat, dan mulai pagi ini siap untuk di tugaskan kembali. Aku bangkit menuju tempat wudhu’. Chess..! air dari kran yang kukucurkan menyentuh tanganku.. Dingin, sangat dingin. Tapi aku yakin Allah menyaksikan ini. Allah akan membalasnya dengan pahala. Air ini akan bersaksi akan kesungguhanku.

Bismillahirrahmanirrohim.” aku wudhu.

Kubersihkan kedua tanganku, sela-sela jari yang tampak kedinginan. Kubasuh mukaku yang tampak bekas-bekas tikar.. alhamdulillah… terasa sejuk, walau sebenarnya dingin meyelusup tulang sum-sum… lalu tanganku… dan semua anggota tubuh yang seharusnya aku basuh. Sembari wudhu’ tak lupa aku baca do’a-do’a penghapus dosa. Dosa yang dilakukan oleh tanganku, oleh wajahku, lisanku, pendengaranku, mataku, dan kaki kemana telah kupakai melangkah. Sepertiga malam terakhir memang dingin. Fikirku dalam hati. Tapi, Ini manusiawi, merasakan dinginnya air malam, dan karena inilah Allah memberikan keutamaan yang luar biasa disepertiga malam. Dan disa’aat – sa’at seperti ini, aku senantiasa teringat kembali akan perjuangan Rasulullah. Dimana setiap malam beliau berwudhu, melakukan sholat Tahajjud. Padahal Rasulullah adalah seorang Nabi yang sudah dijamin masuk Syurga, kenapa melakukan semua itu? Terlebih daerah Arab yang terkenal hawa dinginnya sa’at malam hari… bahkan, Rasulullah melakukan tahajjud sampai kakinya bengkak-bengkak. Sungguh pengabdian yang luarbiasa, sebuah rasa syukur yang teramat dalam, rasa cinta yang tak terkira. Rasulullah manusia sempurna, contoh kan ummat. Setelah mengingat sang Rasul, jiwaku pun terasa hangat, hangat dan menjulur keseluruh tubuh, akhirnya kurasakan kehangatan berdampingan bersama Rasulullah. Akupun tersenyum. Sejuk.

            Selesai berwudhu’ aku bergegas masuk kedalam masjid. Mengganti baju yang kupakai dengan baju koko berwarna putih kesukaanku, harum kesturi wanginya yang sedari siang ku oleskan diseluruh tubuh dan baju koko ini, harum itu masih menempel di baju.

”Merek apa nih? parfum yang bagus…, hmm, wangi..”. gumamku.

Setelah itu sarung yang berwarna coklat kotak-kotak kupakai.  Aku berjalan kedepan tepat ditempat biasa imam sholat. Kuambil sajadah yang tergeletak di bawah mimbar. Lalu kuhamparkan. Malam masih sunyi, suara jangkrik sedikit demi sedikit menghilng, seakan tahu akan ada seorang hamba Allah yang hendak bercinta dengan Penciptanya. Seorang hamba Allah yang menginginkan Bidadari syurga. Ya, Bidadari yang di-Impi-impikan oleh ummat Muhammad S.A.W. Satu, dua ekor nyamuk nakal menggigit tanganku. Sakit. Tapi inilah shadaqohku untuk nyamuk, mudah-mudahan dengan sedikit darah yang mengalir dalam tubuhku dapat membantu nyamuk bertahan hidup, sebelum manusia menyerbu, menyerang atau menyemprotkan zat racun pembunuh serangga.

            Dengan kesungguhan dan niat yang tulus. Aku mengangkat kedua belah tangnku. Dan.

”Allahu akbar…!!!” aku bertakbir.

Malam yang indah. Hening. Aku merasa tenang dan tentram. Dalam hati yang bersih ku ucapkan do’a Iftitah, lalu diteruskan dengan surat al Fatihah. Lirih bacaanku. bersuara tapi tak terdengar. Dengan khusyu’… Surat pendek Juz ’Amma kubacakan, kali ini aku membaca surat al Infithor. Kubaca dengan perlahan-lahan bak sedang membaca surat cinta dari sang kekasih. Atau seperti halnya seorang pendamba cinta membaca sms dari sang pujangga idamannya. Ayat demi ayat ku hayati.. Ayat suci penuh arti. Tiap kata penuh makna. ayat-ayat dibacakan. Al Qur’an diturunkan dari langit dengan berbagai nilai didalamnya. Tak terasa air mataku meleleh… jantung terasa berdebar-debar. Air mata mengalir deras di pipi, mengalir tanpa arah,  semakin lama semakin bergemuruh. terasa semakin deras, Rasa kantuk yang menyelimuti seakan  lenyap tergantikan oleh sesuatu yang lebih dahsyat.

”Apabila langit itu pecah, Dan apabila bintang-bintang itu jatuh  berhamburan, Dan apabila lautan itu diluapkan, Dan apabila kuburan-kuburan itu dibongkar ( dikeluarkan isinya), Maka setiap jiwa mengetahui apa yang telah dilakukan dan yang dilengahkan…..”

            Jiwa ku bergejolak,

”ada apa ini…??” pikirku dalam hati.

Semakin ku resapi ayat demi ayat, hati ini semakin gerimis, lama kelamaan tangis pun membuncah. memekikkan takbir yang teramat dalam. Seandainya aku masih kecil, seandainya masjid ini kedap suara, seandainya teriak dimalam hari itu tidak dilarang, maka, aku akan berteriak menangis dengan setangis – tangisnya. Karena betapa bergemuruhnya jiwa ini. Ya allah… Inilah malam sepertiga itu… inilah Rahmat Allah, yang Allah turunkan… inilah salam dari para malaikat yang turun kebumi. Salam untuk kekasih yang sangat mencintai dan dicintaiNya. Menyalami manusia-manusia yang tersungkur dan bersujud menghiba kepada tuhanNya. Merasa kecil dihadapanNya. Merasa tak berdaya dihadapanNya… semakin lama, semakin terlarut dalam kesedihan… saat mengingat dosa-dosa yang selama ini dilakukan. Sa’at kemunafikan menyelimuti jiwa. Saat janji telah diingkari. Sa’at kereta ba’iat dibiarkan pergi… dan masih banyak wajah-wajah kemaksiatan menghiasi hari-hari yang lalu.

Akhirnya sembilan belas ayat, surat Al infithor selesai kubaca. Sholat pun kuteruskan dengan Ruku’… sujud… i’tidal… dan semua gerakan yang dicontohkan  oleh Rasulullah saw selama sholat, tak dilebih-lebihkan dan tidak dikurangi pula. Tanpa henti – hentinya air mata bercucuran membanjiri sajadah yang kupakai untuk sholat. Tangisku tidak berhenti sampai raka’at kedua, malah semakin deras.. terlebih sa’at raka’at kedua, aku bacakan surat al Qori’ah. Wajahku semakin penuh dengan tetesan air mata. Surat-surat seperti inilah yang menjadikan hati menjadi luluh, lembut dan jiwa menjadi teduh.

            Diluar suasana semakin sunyi, semakin senyap.. sesekali terdengar suara burung ’malam’ mendendangkan suaranya, mengiringi jiwa-jiwa yang bersyukur kepadaNya, mengiringi dengkuran manusia-manusia yang mendengkur, mengiringi berjuta pasangan suami-istri memadu kasih, mengiringi bayi yang menangis terbangun dimalam hari… inilah cintaNya, inilah kasih-sayangNya… aku semakin yakin bahwa di sepertiga malam terakhir, Allah menurunkan RahmatNya.. diiringi para malaikat yang ikut meramaikan suasana langit dengan menurunkan Rahmat dan KaruniaNya..

            Aku semakin terbawa oleh gelapnya malam, tersihir oleh suasana dan indahNya ayat-ayat suci yang kulantunkan…

Namun, sa’at hati ini berjumpa denganNya, sa’at aku bercinta denganNya, tiba-tiba kepalaku pusing, pandangan terlihat samar-samar, aku tak mampu melihat dengan jelas lagi arah sujudku, bacaan alQur’anku semakin terbang… dan, Gelaplah semuanya. Ya, semuanya menjadi gelap.

 

***

            Aku terbangun. Kulihat sekeliling. Terlihat aneh dari biasanya. Suasananya tempat ini tenang jauh dari kebisingan, berbeda dengan suasana hari-hari biasa ditempatku, walaupun dimasjid tetap saja tidak merasa tenang, karena bisingnya suara kendaraan, baik mobil maupun motor. Tempat ini tumbuhannya rindang dan indah. Pohon-pohon dengan buahnya yang lebat, tanah-tanah yang halus bak perak yang terbuat dari mutiara. Tanah ini berkilau. udaranya harum.  Dan air itu, air yang mengalir dari mata air yang deras, tapi jelas terlihat jernih. Sungai mengalir, sepintas seperti air susu, tapi, tidak mungkin. sungai mana airnya air susu. Mungkin aku salah. Dari kejauhan kulihat sekumpulan orang yang asyik bersuka ria, mereka sepasang suami-istri tampaknya, mereka bergembira bahagia, bermesraan tanpa batas, tak tampak kesedihan sedikitpun, wajahnya cerah berseri. Mereka bahagia disini. Seketika aku kaget, Disampingku sudah ada sesosok pemuda. Yang mungkin umurnya tidak jauh beda denganku. Masih muda. Wajahnya begitu bersih, bercahaya dan sangat tampan.

”Subhanallah” gumamku dalam hati.

Lelaki ini sangat tampan, memiliki celak dimatanya. Kumisnya tipis, warna kulit hijau  dengan tubuh yang kekar, tidak tinggi juga tidak pendek, rambutnya indah. Sorot matanya tajam, namun penuh dengan kesejukan. Ia tersenyum, seakan mengerti apa yang aku pikirkan.

wahai saudaraku, nikmatilah… rasakanlah… puaskanlah kau disini, karena kau hanya sebentar disini, kau hanya mampir… reguklah air keshalehanmu, pandanglah indahnya imanmu, kecuplah rasa rindumu..” demikian kata-katanya, dengan mulut yang mengeluarkan wangi harum melebihi wanginya kesturi. Sejenak aku tertegun. Aneh sekali kata-kata orang itu? Lalu aku berdiri, berjalan dengan tertatih. Kepalaku masih terasa berat. Pemuda yang tadi memandangiku dan mengatakan kata-kata aneh sekilat telah pergi, pergi entah kemana.

Aku terus berjalan, menyusuri tempat yang teramat sayang untuk dilupakan. Setelah beberapa lamanya berjalan. Perutku terasa perih, Aku lapar sekali. Sejenak aku berhenti berlalu, dengan jelas didepanku berdiri kokoh pohon yang terasa asing.. pohon ini belum pernah kulihat sebelumnya, tapi buahnya teramat lebat.

”mudah – mudahan buahnya bisa untuk dimakan…” pikirku.

Semakin dekat, aku berhenti.

” ini buah apa ya??.. kok aku belum pernah melihat pohon semacam ini, juga buahnya yang berwarna indah ini. Ah, aku lapar sekali” pikirku dengan rasa heran.

Sejenak aku ingat kata-kata orang tadi. O, mungkin taman ini milik pemuda tadi. Jadi, ini yang dimaksud  aku harus menikmati dan memuaskan disini, sudahlah yang penting aku menikmati buah ini. Satu per satu aku petik dan aku makan.

”Mmm…., wah enak!! Subhanallah baru kali ini aku makan buah ini ’maknyoz’…

Beberapa buah aku makan. Tapi aneh, sekali lagi ada keanehan.. kok aku gak kenyang – kenyang ya…yang ada hanya rasa enak yang sangat enak yang kurasakan. Semakin menambah buah, buah yang berikutnya semakin enak. Tidak ada perasaan puas, bebrapa sa’at aku berada ditempat itu. Akhirnya aku nyerah, sudah ah. Tapi, kenapa ya. Kok buah ditempat yang aku makan tidak habis-habisnya. Aku berjalan lagi. menuju sungai yang membuat aku penasaran, dari kejauhan sungai ini sangat indah dengan warna air: putih susu. Putih sekali. tiba-tiba. Allahuakbar!!. Subhanallah… Mahasuci engkau ya Allah.. benar dugaanku, ternyata benar sungai ini adalah sungai air susu. Tersungkur aku bersujud. Menangis…!! Kali ini perasaan takut bercampur senang. aku berjalan lebih dekat, lalu perlahan kuturunkan lenganku, menciduk air yang mengalir. Segera aku masukan ke mulutku yang sejak tadi merasa kehausan.

”Allahuakba…r!!” Kembali aku bertakbir..

”Air ini.. air ini.. benar…benar… air ini benar-benar air susu… dimanakah aku?? ya, Allah.. dimanakah aku..??”

aku langsung berlari-lari… dikanan dan dikiri hanya terlihat keindahan-keindahan, pemandangan – pemandangan yang sangat menyejukkan mata, hijau, harum baunya. Merasa sudah jauh, aku berhenti. lalu berjalan dengan setengah sadar. Sesaat kulihat ada sejenis kursi, rasa lelah dan letih membuatku  terduduk dikursi tersebut. Subhanallah!! sebuah kursi yang indah sekali, memiliki cahaya yang sangat menakjubkan. Terasa duduk dikursi dengan di kelilingi oleh permaisuri-permaisuri, nyaman sekali. Sekonyong-konyong kulihat ada yang datang. Semakin dekat… dan dekat. Aku terdiam. Diam seribu bahasa. Tak ada sepatah kata pun yang dapat aku ucapkan. Hatiku berdegup kencang, bergemuruh… serasa melayang-layang, terbang diatas bunga yang indah. Ya. Di depanku kini berdiri seorang gadis yang sangat cantik. Cantik sekali. rambutnya terurai panjang. Wangi khas mengiringi kedatangannya. Wajahnya… bagaimana bisa aku mengatakannya, ayu manis, bercahaya. Memancar sinar yang menyejukkan jiwa. Tubuhnya indah, dibalut oleh kain putih yang terurai terbawa angin. Bibirnya tipis manis. Aku tidak bisa bergerak… hatiku bergetar. Dengan gugup aku bertanya padanya.

 ”si..siapa anda?” dengan bergetar dan terbata-bata.

”salam bahagia bagi hamba yang senantiasa mengabdi kepada tuhanNya. Aku adalah hadiah yang diberikan tuhanMu dan TuhanKu.” jawab perempuan itu, sembari menyunggingkan senyuman yang manis.

Aku tak kuasa menahan getar jiwa ini, ingin rasanya kupeluk gadis ini, ingin rasanya aku memegang tangan halus nan putihnya itu.

”tapi, aku mohon ma’af untuk sekarang aku tidak bisa kau sentuh, aku tidak bisa kau miliki. Suatu hari nanti, sa’at tuhanMu memang mengizinkan kau menyentuhku aku rela bersamamu. Segala keinginanmu akan aku penuhi…” lanjutnya, seperti mengerti apa yang aku pikirkan.

Gadis itu lalu berjalan kembali, meninggalkan aku. Aku yang sedari tadi berdiam diri, tersadar bahwa gadis cantik yang dihadapanku hendak meninggalkanku. Seorang gadis manis yang nyata-nyata ada didepanku. Aku berlari mengejarnya sambil berteriak-teriak, memanggil-manggilnya.

”wahai bidadariku… wahai bidadariku…. kembali… kembali…!!

Dengan perasaan cemas tak menentu, aku terus berlari, sekuat tenaga.. berlari menembus bayang-bayang.. berlari menembus khayalan, semakin jauh….jauh… dan jauh. tak sengaja aku tersandung sesuatu. Dan aku pun terjatuh. Pandanganku terasa kabur…, lama-kelamaan semakin buram. dan, Gelap. Semuanya gelap.

***

Aku diam, jantung terus berderap kencang, ketakutan yang tiada tara. Tiba – tiba terdengarlah suara ust. Asep memanggil-manggil.

”Farhan.. farhan…, bangun han. Bangun… bangun mujahid. Bangun anakku…!!” panggilan itu semakin jelas, dan sayup – sayup terdengar lantunan ayat suci alQur’an, tasbih, tahlil dan tahmid.

Entah ada apa… akupun membuka mata dan kulihat orang ramai di sekellilingku, ust. Asep yang tepat disampingku terlihat mendekatkan mulutnya ketelingaku, seraya membaca do’a-do’a pengobat jiwa.

 ”ada apa ini ustadz..?? ada apa ini? Kenapa banyak orang disini?”

tanyaku, sambil melirik-lirikkan mata kesekelilingnya dan memperhatikan orang-orang yang memperhatikanku. Kulihat wajah-wajah cemas nan kasihan yang mengarah kepada ku.

”Kamu tadi pingsan Han. Setelah shalat subuh kamu langsung tergeletak, tak sadarkan diri. Kami jama’ah shalat subuh sangat khawatir. Kami langsung membawa kamu ke madrasah. Dan berusaha membangunkanmu. Tapi, kamu tidak bangun – bangun. Kamu pingsan dari setengah lima sampai sekarang. Jam enam. Makanya tetangga-tetangga semua pada datang. Kamu memang kenapa Han?, sedari pingsan kamu hanya menyebut syurga… syurga.. allah.. allah… bidadari… bidadari… dan kamu seperti melihat sesuatu yang belum kamu lihat dan berteriak seraya bertakbir tiada henti.” jelas ust Asep.

”sholat subuh? Saya belum sholat subuh ustd, tadi saya hanya bangun malam untuk sholat tahajud, tiba-tiba kepala saya merasa pusing dan  setelah sholat tahajjud selesai saya berada di suatu tempat yang entah dimana….”

Lalu kujelaskan semua kejadian di sepertiga malam tadi, sejak pertemuanku dengan seorang pemuda sampai pertemuanku dengan seorang gadis yang sangat cantik. Semua yang mendengar paparanku terdiam, seolah telah tersihir oleh rayuan sang penggoda, sebagian orang melelehkan air mata, begitupun ust. Asep  kulihat matanya lembab. Seraya berkata

”kamu sudah dibawa ke taman syurga anakku, kamu mendapatkan rezki yang teramat besar, kamu diajak bercinta dengan suasana disana… bersyukurlah anakku. bersyukurlah…”

Akupun diam. ya, benar…, syurga. aku tadi ketaman syurga… aku sudah merasakan nikmatnya syurga. harumnya pun masih tercium, wangi… wangi…. sekali!! Syurga yang selalu hadir di pelupuk mata, bagi siapa yang berIman. Bagi siapa saja yang bertaqwa. Ah, indah benar.

 

Aku telah bercinta disepertiga malam. Dan suatu sa’at nanti, aku akan kesana lagi. ke-Syurga. mengucap salam dengan penduduk syurga. bercinta dengan bidadari, memadu kasih seperti mereka yang bahagia, bahagia di alam Syurga.

 

 Tamat

Abu Hurairoh r.a dari Rasulullah s.a.w, beliau bersabda:

 

 ”Allah turun kedunia setiap malam, pada sepertiga terakhir malam. Kemudian Dia berkata: Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri, siapa yang memohon ampunan-Ku, Aku ampuni”

            Semoga Allah membalas dengan indahnya syurga. amiin. Baca surat-surat pendek, surat Muhammad ayat 15, dan ayat-ayat alQur’an lainnya tentang keindahan Syurga.

h1

3 month to be an entrepreneur

August 21, 2007

Prolog: Herman adalah seorang mahasiswa semester tujuh di Unikbo, rajin sholat dan memiliki mental wirausaha yang cukup kuat. Sejak SMP ia sudah diajari berjualan, membawa dagangan orangtuanya ke sekolah. Tidak ada perasaan malu dan takut. Karena didikan orang tua serta kesungguhannya dalam berjualan, sampai sa’at ini masih ngotot untuk mencari uang lewat berjualan. Sa’at ini dia sedang liburan kuliah, dua bulan lebih lamanya. dia berfikir semester ini banyak waktu yang bisa dia gunakan diluar. karena sks kuliahnya yang diambil tidak terlalu banyak. Kebetulan sekali ada temannya bernama Zaky mengajaknya untuk berwirausaha. Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba, Herman menerima tawaran bisnis tersebut dengan hati gembira. Kini ia punya uang 8 juta. Cukup baginya menyewa kios dan membuka usaha kecil-kecilan.Usaha yang di bidik oleh Herman kali ini adalah usaha Juice buah. Herman berfikir jualan juice buah untungnya besar. Dan prospek sekali dipasarkan di Bogor, terutama di kampus UNIKBO ( Universitas Kebebabsan Bogor ), walaupun Bogor kota hujan tapi terkadang musim panasnya panjang. Namun, bukan alasan utama dia mengambil peluang ini, yang paling utama herman mengetahui bahwa usaha jus sebenarnya bukan hanya untuk mengurangi haus saja, seperti bentuk usaha minuman lainnya, akantetapi jus mengandung banyak sekali kandungan vitamin dan sangat baik untuk kesehatan, dia ngerti di Unikbo mahasiswanya mementingkan kesehatan, pasti usahanya laku keras.

Bulan ke 1

Herman hari ini sangat luar biasa semangat. Dengan buku agenda yang dibawanya dia pergi ke tempat pembuatan etalase. ” pak. Gimana etalase jus buah saya, sudah beres belum?? ” tanya herman, dengan gaya bak bos besar. ” sudah mas, itu tuh.. Etalase buat jualan jus kan? ” jawab pembuat etalase sambil berjalan kedepan ke arah etalase jus ukuran 2 M2 x 1,5 M2. lumayan besar untuk ukuran jus buah. Semuanya berlapiskan kaca dan alumunium putih. ”oke, sekarang saya lunasi bayarannya. kemarin saya sudah ngasih DP 250.000. Jadi sisanya 550.000, bener kan pak. ??” tambah Herman sambil mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Memang harga etalase disini lumayan murah. Untuk ukuran itu biasanya sampai satu setengah juta. Tapi, Herman hanya membuat etalase dengan mengeluarkan uang sebesar 800.000 rupiah saja. ” nanti saya tunggu di depan kios no. 55 Unikbo… jangan sampai kesorean ya pak, soalnya besok saya sudah mau jualan perdana.. ”. Setelah menyerahkan uang, herman lantas meninggalkan tempat etalase tersebut dan menyetop angkot jurusan pasar Bogor. Hari ini dia benar-benar capek. Pagi-pagi sekali sudah pergi kekios membereskan semua peralatan yang sudah siap untuk jualan jus, yang direncanakan besok. Semua peralatan jus seperti pisau, blender, kulkas dan peralatan lainnya sudah sudah disiapkan sedari kemarin. Hari ini dia hanya menyiapkan etalase dan belanja buah-buahan serta cup dan sedotannya.

Herman sudah pulang dari pasar. Nampak bungkusan cup dan sedotannya serta dua dus yang lumayan besar. Untung saja kiosnya dekat jalan, jadi dia bisa kangsung memasukkan belanjaannya kedalam kios, tanpa harus membawa lagi.

” Jambu merah 1 Kg, alpukat 1 kg, Nanas ½ kg, Mangga 1 kg, Durian, wortel, Jeruk, Belimbing, dan semangka… wah capek juga. aku baru bisa membeli ini untuk jualan besok… lagian besok aku hanya Promosi. Harganya pun tentunya harga promosi. Sepertinya masih ada yang kurang.. apa ya?? ” gumam Herman sembari mengingat-ingat semua keperluan yang kurang… ” O, iya. Gula!! Ya, allah.. lupa sekali aku ini.. ” gerutu herman sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Lalu keluar dari kios untuk mencari gula.

Malamnya herman merinci semua pengeluaran yang di gunakannya untuk memnyediakan perlengkaapn jualan jus buah. Di total semuanya. 1.520.000 ( Satu juta lima ratus duapuluh ribu rupiah. ) Belum di kurangi renovasi bangunan kios sebesar 500.000 ( lima ratus ribu rupiah. ) Dan uang sewa empat juta, yang baru dibayar tiga juta. Total semua yang dikeluarkan sa’at ini. 5.520.000. ”masyaallah besar juga.” pikirnya Uang sisa hanya 2.480.000.

***

Hari pertama ia jalani dengan semangat yang menggebu-gebu. Beberapa cup ia bagikan ke orang-orang yang ia kenal dekat. Tak lupa beberapa tetangga kios ia beri. Harga yang ditawarkannya pun lumayan murah. Hanya 3.000 Rupiah. Padahal normalnya harga jus buah berkisar 3.500 sampai 5.000 Rupiah. Ini memang strategi pemasaran yang herman lakukan. Semuanya berjalan lancar. Dan hasilnya menggembirakan. Beberapa hari banyak konsumen yang datang ke kiosnya dan membeli jus buah khas herman.

Waktu terus berjalan. hari berganti hari. Manusia-manusia bumi menyebar dipermukaan bumi dengan aktifitasnya masing-masing, sesuai pekerjaannya. kebaikan dan keburukan selalu mengiringi kehidupan manusia. Semuanya bertebaran dengan macam-macam cara manusia menjalaninya. Begitu juga Herman, ia dengan kesabaarn dan keikhlasan menjual jusnya dengan perasaan bangga. Ia mulai terlihat sibuk. tapi, herman tidak melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah. sesekali menginfakkan uangnya, tetap melaksanakan sholat lima waktu. Terkadang rela menutup kiosnya untuk sholat berjama’ah dimasjid. Maklum ia tidak mencari pegawai untuk menjaga kiosnya. Jadi, ia harus bertarung sendiri menjaga kiosnya.

hari berganti hari. nampaknya Herman mulai kelelahan menghadapi konsumen yang semakin hari semakin banyak, ia mulai melupakan sholat berjama’ah, waktunya habis meraup uang yang semakin hari semakin banyak. ” sudah hampir sebulan aku berjualan. Dan nampaknya usahaku berjalan lancar. Banyak pelangan yang membeli jus buatanku. Ha..ha.. rupanya aku bakat juga menjadi bos jus..” dengan perasaan bangga dan merasa segala-galanya adalah kerja keras dari usahanya. ” aha, sebulan ini aku sudah mendapat untung dua juta. Bersih. Setelah kubagi dengan si Zaky… hm, nampaknya aku harus mencari pegawai. Aku akan jadi Bos!! ” pikirnya. akhirnya Herman mencari seorang pegawai, dan didapatnya seorang perempuan berumur belasan tahun, baru lulusan SLTA. Cantik dengan pakaian gaulnya, kerudung yang dililitkan kelehernya.

Bulan 2

” gimana Ranny kerja disini betah gak?? ”

tanya herman kepada Intan yang tak lain adalah pegawai barunya.

” ya… Gimana ya kak. Baru juga tiga hari. Belum kerasa betul. Tapi enak juga sih kerja disini. Bosnya baik. Mahasiswa lagi…” jawab Intan, dengan nada menggoda. Rupanya Intan memiliki perasaan lain, bagaimana tidak. Selama tiga hari ini dia berdua dikios bersama seorang mahasiswa yang parasnya ganteng, putih, bercambang lebat, meski tubuhnya kurus. Walaupun dikios yang suasananya tidak romantis kalau ditemaninya seorang jejaka ganteng, siapa yang gak bahagia. Terlebih dia seorang Bos. Walaupun bos kecil-kecilan. Hari – hari berikutnya di warnai dengan canda ria sang bos dengan pegawainya, malah sesekali Herman mengantarkan Intan kerumhnya sepulang jaga dikios. Perlahan-lahan Herman melupakan kewajibannya sebagai muslim. Sholat subuh ditinggalkan, ia berdalih tidak sempat sholat subuh, karena sa’at subuh dia masih berada dipasar. Padahal sebulan yang lalu juga seperti itu, tapi dia sempat sholat subuh, entah sholat dipasar atau dikost sebelum berangkat belanja. Dzuhur pun di lupakannya, dia beralasan harus menjaga kios, karena Intan datang kekios jam dua bahkan lebih. Walaupun sebenarnya jadwalnya jam satu, tapi herman tidak merasa rugi. Malah sa’at Intan datang bukannya bersegera kemasjid. Malah asyik ngobrol dengan pegawainya.. pernah suatu ketika seorang wanita berjilbab lebar berniat membeli jus tapi mengurungkan niatnya, karena di dalam melihat Herman dan Intan sedang berpelukan. Tapi, memang hawa nafsu sudah meracuni pikiran Herman, ia tidak memperdulikan lagi dagangannya. ” wuh, mau beli jus aja sok alim.. mang dia siapa, gak bakal rugi daganganku walaupun tidak dibeli kamu..” begitu ucap Herman sa’at mengetahui pelanggannya tidak jadi membeli jus. Ternyata Herman sudah berubah. Ia tidak lagi menjaga sopan santun dan aturan agama. Ia merasa sudah menjadi besar.

Hal itu berjalan selama dua minggu.

Suatu sa’at, sebuah Jip berhenti di depan kios Herman. keluarlah beberapa lelaki, Herman segera melayani empat lelaki yang terlihat beringas yang dikiranya hendak membeli jus khas miliknya. ” mau jus apa mas?? ” tanya sopan herman. ” jus..jus… gua minta jus kepalamu tuh.. belga banget sih luh!!” sambil setengah berteriak lelaki itu menjawab disertai dorongan tangannya. Jelas saja tubuh kecil kurus Herman terdorong sampai terjatuh. ” ma’af mas apa salah saya?? Kenapa mas seperti ini?? Mas mau meminta uang?? ” dengan perasaan kaget, heran dan sedikit ketakutan Herman meminta alasan lelaki yang mendorongnya hingga terjatuh..” gua kagak butuh uang, gua udah kayak… dan salah kamu!! Kamu merebut pacar gua.. mana Intan. Hah.. dimana dia? Kamu mahasiswa tak tahu diri.. pegawai kamu sendiri kamu pacarin.. dasar tak bermoral!! ” bentak lelaki yang sedari tadi melototi herman, yang mengaku pacar Ranny. ” hah, pacar Ranny? Saya.. saya tidak pacaran pak! ” dengan tersendat bercampur gagap Herman berkilah. ” kepala lu gak pacaran! Lu peluk-peluk Intan apa itu bukan pacaran?? Dasar kurus… Bos kere!!.. mana dia? Dimana intan. ” bentak Lelaki yang sedari tadi tanpak menggebu-gebu. ” Dia… dia sudah pulang. Kalau hari minggu Ranny memang tidak sampai malam. Ia sudah pulang dari sore tadi.. ma..ma’af bang saya tidak tahu dia pacar abang!!” dengan gemetar herman menjawabnya sambil terbata-bata. Tiga orang lelaki lainnya langsung masuk kios dan menghajar herman yang sedari tadi ketakutan dan sempoyongan di pojok kios. ” alah banyak bacot luh.. ni rasain.. ” bak..buk..bek. twing.. pak..pok..pek!! ” waduh.. ah.. ampun.. bang!! Ampun…” Herman jadi bulan-bulanan pacar Ranny dan teman-temannya, sembari mengobrak-abrik semua buah-buahan yang ada dikios. Etalasenya yang masih terlihat manis, dihantam dengan sebatang balok. Cukup keras pukulan orang itu, yang akhirnya memecahkan etalase tersebut… dari kejauhan orang-orang sekitar melihat kejadian itu dan ramai-ramai mendatangi kios herman. Melihat orang berdatangan lelaki yang merasa puas merusak kios dan dagangan herman segera berlarian dan menaiki mobil yang sedari tadi di parkir di depan kios. Di pojok masih terlihat herman dengan memar di mukanya, masih tersungkur dan merintih… kesakitan.

Bulan ke 3

Herman menyesali perbuatannya selama ini. Akhirnya ia pasrah. ia kembali bangkit menyusuri jalan yang selama ini ia tinggalkan. Ia telah kufur ni’mat. Ia telah takabbur, baru saja diberi kenikmatan yang sedikit sudah sombong. Bagaimana bila diberi yang lebih besar dari itu, tentu saja akan lebih dahsyat keingkarannya. Herman juga manusia biasa, bisa lupa dan khilaf.

Maka di sa’at malam yang sunyi, ia tersungkur mengharap Ampunan-Nya, mengharap hidayah-Nya, Petunjuk dan Lindungan-Nya. ”mulai sekarang aku akan kembali kepada-Mu, menyucikan jiwaku yang selama ini kukotori, ya, Allah ilahi Rabbi… terimalah taubat hamba-Mu yang dilumuri dosa ini, kembalikanlah diri ini kepada pangkuanMu, disisiMu…” air mata herman tak tahan tersimpan dikelopak matanya, dan akhirnya berjatuhanlah bening-bening putih, membasahi sajadah cinta yang senantiasa menjadi saksi pengakuan kekhilafan seorang herman. Esok harinya ia azamkan untuk menata kembali hidup yang baru.

Kiosnya yang hancur berantakan ia tata kembali satu persatu, etalasenya yang hancur ia pasang kembali seadanya.

Dua hari setelah kejadian itu ia kembali berjualan. Kali ini ia pasrahkan dagangannya kepada Allah swt, ia hanya berusaha mencari nafkah. Sa’at azan berkumandang ia tinggalkan kiosnya, hanya secarik kertas yang ia tinggalkan dengan tulisan : Ma’af, kami tidak melayani pembuatan jus sa’at ini. Kami sedang Sholat!! Demikian. Beberapa pembeli yang akan membeli ternyata memahaminya, malah ada beberapa yang bersedia menunggu sampai herman datang. ” subhanallah, ternyata rezeqi itu tidak kemana. Walaupun aku tinggalkan untuk sholat, kalau saja itu rizkiku tetap akan datang. Allahu Razaqan. Sujud syukurku padaMu ya Allah.. ” ucap herman memuji keagungan tuhanNya. Selain itu dalam mematok harga herman tidak terlalu tinggi. Malah ia serahkan kepada pembeli mau membayar berapa saja.

” harganya berapa mas?? ” tanya seorang laki-laki berjenggot tebal dengan mengenakan jubah putih, nampak bekas hitam di keningnya. ” bapak punya uang berapa? Biasanya orang membayar tiga ribu per-cup, tapi terserah bapak bisanya berapa saja… ”. Jawab herman dengan mantap. Tentu saja si lelaki tadi kaget bukan main, hari gini masih ada pedagang yang seperti ini. Bukankah hanya terjadi sa’at Zaman Rasulullah ??. memang sa’at Rasululah s.a.w berdagang. Muhammad s.a.w tidak mematok harga, ia terkenal kejujurannya. Makanya dijuluki ash shidiq. Sedangkan sa’at ini? Disa’at orang mati-matian mencari uang. Disa’at orang berlomba-lomba mencari harta. Disa’at para pengusaha mencari untung sebanyak-banyaknya. Disa’at dunia telah kembali hinggap di hati umat manusia. Al Wahn.. cinta dunia dan takut mati. Tapi masih ada juga seseorang yang menjual dagangannya dengan menyerahkan berapa saja bayarannya. ” ah.. mas ini gimana, saya tidak bisa begitu. ini saya bayar lima ribu, kebetulan tadi saya dapat rizqi. Saya do’akan semoga Allah swt melapangkan rizki anda. ” lanjut pembeli itu sambil mengeluarkan uang lima ribuan. Dengan perasaan sedikit mengharu biru. Allahu akbar! Bukannya kerugian yang didapat herman, tapi malah sebaliknya ia mendapatkan yang lebaih dari itu, malah di do’akan. Betapa agung Allah swt.

Hari ke hari ia lakukan dengan istiqomah. Akhirnya jus nya kembali ramai. Malah dia sekarang telah mengangkat dua orang lelaki yang menjadi asistennya, melayani pembeli, menemaninya kepasar dan bersama-sama melaksanakan sholat berjama’ah.

Akhirnya tiga bulan berlalu.

Epilog: Herman kini ia telah membuka kembali satu kios di tempat yang berbeda. Ia namakan kiosnya dengan sebutan Jus magfiroh. Ia berharap selalu dalam kasih sayang dan ampunan Allah swt. Bukan hanya tiga bulan saja tetapi selamanya. Untuk selamanya dalam ampunan-Nya.

( Persembahan untuk para entrepreneur muda. Semangatlah, Indonesia masih membutuhkan kita. Pengangguran masih menjamur. Bangkitlah, kembali ingat seorang sahabat Rasul. Abdurrahman bin auf. Jangan terjatuh sa’at mendapat cobaan, semua itu hanya kerugian sementara. Jangan terjebak oleh gemerlapnya dunia.. yang melenakan… )

h1

Ketika cinta dibatas waktu.

August 21, 2007

” aku mencintaimu karena Allah ”

Empat kata sms misterius aku terima malam kemarin. Aku kaget. Dan tanda tanya besar dalam benakku. Siapa yang mengirim sms ini?? kesana kemari tapi tidak ada yang tahu siapa pengirimnya. Aku sudah menanyakan sama deni, Farhan, Ade dan teman-teman di Mushola Fakultas ”Kebaikan”, juga sama Andi, Jamal, Rifky dan teman-teman sekelasku yang lain, kakak kelas dan adik kelas, semuanya tidak ada yang tahu no sms ini. Sms misterius. Pikirku. Sempat terlintas pengirim sms itu adalah ukh Rany, salah satu anggota baru LDF Al Khoir Fakultas Kebaikan. Tapi, nggak mungkin!, dia kan baru masuk LDF, dia hanya Mahasiswi Konversi dari D3. aku hanya bertemu dengannya sa’at acara pertemuan aktivis LDK se-Universitas ”Kebebasan” Bogor (UNIKBO) D3 dan S1, sa’at itu aku jadi MC. Sudah dua Tahun yang lalu. Dan aku tidak pernah memberikan no ponselku sama dia, walaupun kami sempat bercakap-cakap. Dan sekarang akhirnya bertemu lagi. Tapi, tidak mungkin dia, dia Akhwat banget. Ya Allah tunjukkan kebesaranmu. Sms siapakah ini. Dalam sujud aku menangis. Di sa’at aku shalat. Disa’at aku belajar. Aku selalu teringat sms ini.

Suasana subuh mulai terasa. Kokok ayam ikut membangunkan manusia-manusia yang terlelap dalam tidurnya. Menara masjid satu persatu mendendangkan irama sholawat Nabi. ” Azan subuh sudah dekat ”, gumamku dalam hati. Segera kurapikan sajadah yang terhampar sedari tadi. Nampak tanda-tanda cinta disana. Cinta yang kupersembahkan melalui sujud syukur di sepertiga malam. Secepat kilat aku merapikan diri, bersiap untuk pergi kemasjid, memakai sarung putih bergaris, lalu meraih baju koko yang tergantung dibalik pintu dan kupakai dengan ikhlasnya. Sebelum melangkah keluar kamar tak lupa aku oleskan minyak wangi merk HARUM produksi SUM Farfum dengan wangi ”Malaikat subuh” keseluruh tubuhku, telapak dan punggung tanganku juga baju koko yang kukenakan. ”oya hampir lupa, Mushaf!” kataku dalam hati. Lalu bergegas aku ambil mushaf yang tersimpan cantik diatas meja belajar. Memang aku tak lupa tilawah sebelum dan setelah sholat Shubuh. Kadang membaca di masjid, kadang di rumah. Kulangkahkan kaki menuju masjid. Masjidnya memang tidak jauh, 150 meter dari tempat kostku. Bagiku cukup dekat. Walaupun jalan yang harus kulalaui berbelak-belok, penuh gang-gang kecil. Disini jalannya kecil-kecil. Tidak ada halaman yang kosong, semuanya dipakai untuk bangunan rumah.

Menurut ibu kost. Dulu daerah ini sepi, hanya ramai oleh anak-anak yang asyik bermain di halaman rumah mereka, yang sangat luas. Rumah-rumah disini sedikit, tidak sebanyak seperti sekarang. Tiap rumah menyediakan halaman rumah sebagai tempat anak-anak bermain. Setiap rumah menyediakan tempat untuk pohon-pohon tumbuh dan berbuah. Terkadang ada juga yang menyediakan halaman rumahnya dengan taman-taman yang indah, yang sedap dipandang mata. Tapi, itu dulu. Lima sampai tujuh tahun yang lalu. Sebelum orang luar bogor membeli tanah disini, sebelum orang –orang jakarta membangun rumah-rumah bertingkat di atas tanah yang subur disini, sebelum para penguasa eh, pengusaha membangun minimarket-minimarket dan toko – toko disini. Yang lebih miris lagi sebagian dari kami, orang ’pribumi’ memilih menjual tanahnya atau rumah-rumah mereka kepengusaha-pengusaha yang ber’duit’, hanya dengan beberapa lembar uang rupiah pemilik tanah rela melepaskan tanah wariasan leluhurnya, ada seorang ibu yang sudah tidak memiliki suami sa’at mengunjungi kerabatnya disini terlihat lesu dn mengiba sa’at memandangi sebuah bangunan yang diisi oleh anak-anak kost, dulu rumah itu adalah miliknya, namun karena kondisi ekonomi ia rela menjual rumahnya tersebut, sekarang dia hanya mampu memandanginya dan mengenang masa-masa lalu bersama rumahnya tersebut” tutur ibu kost, yang terlihat menerawang, mengingat dan menghayati apa yang sedang diceritakannya. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala membiarkan si ibu bernostalgia dengan hari-hari yang telah dilaluinya. ” sebenarnya kami juga merasa bersyukur, karena selain itu kami mendapatkan barokah dari Allah karena adanya kampus UNIKBO disini. Buktinya ibu bisa hidup dan makan dari hasil berjualan gorengan dan bisa mengontrakkan rumah ibu. Sebagian anak-anak kami juga ada yang terbawa arus ke-mahasiswaan, malah banyak anak-anak kami yang ikut melanjutkan belajarnya di Peguruan Tinggi, walaupun ada sebagian tidak kuliah disini, tapi setidaknya wawasan mereka ikut terbawa oleh intelektual Mahasiswa UNIKBO.” tambah si ibu kost yang begitu bernafsu menceritakan kampungnya yang dulu hanya desa penuh dengan rawa-rawa dan pohon-pohon, sekarang telah berubah menjadi kota. Dan ini terjadi sa’at ini, tidak tahu 5 samapi 10 tahun lagi. Seperti apakah disini. Hanya anak-anak warga sini yang akan merasakannya, sedang aku, setahun atau dua tahun lagi sudah meninggalkan kampung ini. Aku akan membangun daerahku di Sukabumi. Disanalah aku akan berbakti, mensejahterakan masyarakat desaku. Mudah-mudahan Allah swt mengabulkan semua keinginanku. Amiin.

Masjid sudah dekat, akupun langsung masuk kedalam masjid. Dan mempersiapkan diri melakukan shalat tahiyatul masjid, di shaf pertama aku lihat kakek tua memegang microphone dan tiga bapak-bapak pengurus masjid sedang asyik bershalawat, di pinggir-pinggir masjid hanya ada dua orang yang kukenal benar wajahnya yaitu andi dan jamal, rupanya mereka sudah datang lebih dulu.

***

” Candy Iindriastuti,… subhanallah banget sekarang.. Berbeda dengan dua tahun yang lalu. Sekarang hijabnya rapi…, semakin sholehah…., dan sa’at bertatap muka sorot matanya memancarkan cahya kesejukan. Ya allah cantik benar ciptaan-Mu ini. Seandainya dia jadi istriku...” ” whuss!! Bengong.. he..he… lagi mikirin siapa nih.. ” Jamal mengagetkanku dengan ledekan khasnya. ” idihhh, ngagetin ajah! Orang lagi nginget-inget palajaran yang tadi.. yeyyy!” jawabku, sedikit ngeles. ” lagian senyum-senyum sendiri. Ini kantin woi, banyak orang, nanti dikira orang aku bawa pasien RSJ masuk kampus lagi.” timpal Jamal sambil meminum juice Alpukat kesukaannya. Memang sedari tadi aku asyik memikirkan Intan. Semenjak dia ikut di LDF dan aktif dalam kegiatan keislaman aku selalu memperhatikannya. Apalagi, sa’at dua hari yang lalu. Sa’at aku bertemu dengan dia di ATM BRI. Awalnya aku tidak tahu kalau yang didepanku sa’at antri mengambil uang di ATM adalah Intan. Kalau saja dia tidak menengok kebelakang, dan menyapaku aku tidak tahu. ” assalamu ’alikum akhi…!! ” Aku hanya tertegun dan salah tingkah, ”wa’alaikumsalam. E..Can…Candy!!” balasku. Terbata-bata ” kenapa sih aku ini.” gumamku. ” kenapa akh?? ” tanya dia dengan singkat, rupanya mendengar guamamanku. ” owh, ti..ti..dak. gak apa – apa kok. ” jawabku dengan gugupnya.” Candy mau ngambil uang ya?? ” aku memberanikan diri bertanya.” ya.. iyalah.. masa mau makan..he.. ( ABCD = Aduh Boo… Capek Deh…./sisipan doank!:penulis ) ” dengan senyuman manisnya, di tambah bibir tipis dan pipinya yang lesung pipit tersenyum kepadaku. Aku semakin STB ( salah tingkah Banget /kok banyak kata-kata gaul sih.. twing-twing!!:penulis). Tapi aku ikhwan, harus kuat. ” gak sih.. Cuma mastiin aja Candy…”. balasku, gak mau ngalah. ” idih GPL..!!! ” timpal dia, dengan kerlingan matanya yang asyik dipandang. ” apaan tuh???…”

aku bengong…

” Gak Penting Lagi…”

Gubrakk!! Wah, akhwat sekarng gaul-gaul ya.. beda dengan dulu. Sa’at aku masih SMA. Akhwat dulu, memandang saja sudah malu-malu kucing. Sekarang mah, ngegemesin.. tapi, sama aja sih ikhwannya juga.

”ma’af akh. Candy duluan… ” tambahnya sambil masuk kedalam ATM. ” oya, silahkan…”. Balasku yang sebenarnya memiliki harapan bisa berlama-lama dengannya. Sejak sa’at itu aku jadi sering melamunkan dia, dan.. ” woi..woi… sudah belum ngelamunnya?? Aku mau pulang nih… ngapain dikantin cuman bengong doang.” lagi – lagi Jamal ngagetin aku. Kali ini dengan sedikit marah. ” ya udah kita pulang aja, lagian aku kurang sehat nih.. oya sekalian makanan dan minumanku kamu bayarin dulu yah… aku lagi gak bawa uang.. sebenernya lagi bokek! He..he…” balasku dengan wajah meminta belas kasihan ” pliss ya… sayang!! ” tambahku. ” idih sayang, dasar!! Aktivis dompet tipis.. keren sih oke. Tapi, gak berduit!! Nih aku bayarin… bilang makasih dong!!! ” tukas Jamal sedikit sewot. ” Iya..ya.. deh, makasih ya… kamu temenku yang paling baik deh, tapi kamu jangan ngomong-ngomong aku aktifis ditempat umum dong, nanti aku di anggap teroris lagi… ”. Jawabku, dengan perasaan malu di bilang tak berduit. ” Emang aktifis harus banyak uang apa. Yang penting aktifis itu setia dan rajin syuro. Penampilan ok. Tepatnya sih Rapi. Omongannya didenger. Itu aktifis.”. Gumamku.

***

sms itu masih belum diketahui siapa pengirimnya padahal sudah tiga hari. Setiap aku telpon dan sms tidak ada balasan, mungkin dinonaktifkan. Tapi aku tidak peduli yang penting aku sekarang selalu memikirkan Rany. Hari ini perasaanku sama dia semakin kuat, hidup terasa diombang-ambing, makan terasa hambar, inget dia, semua aktifitasku semakin tak menentu, ada perasaan rindu. Ya, Allah apakah ini namanya cinta?? Apakah aku telah mencintai Rany?? Astagfirulalh, aku seharusnya tak berbuat seperti ini. Ini salah. Sambil merebahkan badanku di kasur, fikiran ini tetap tertuju sama Candy. Lantunan Nasyid yang kuhidupkan begitu merdu terdengar. Nasyid ini membuatku semakin dekat dengannya, terlebih lagi lagu dari inteam dengan Kasih ke kasih, impian kasih, Do’a seorang kekasih, ditambah nasyid Edcoustic… ah… semakin menggebu-gebu jiwaku ini.

( inteam: kasih ke kasih )

tak perlu aku ragui… Sucinya cinta yang kau beri

Kita saling kasih mengasihi… dengan setulus hati…

Ayah ibu merestui.. menyambung cincin di jari

Dengan rahmat ilahi… cinta kitapun bersemi…

Sebelum di ijabkabulkan, syariat tetap membataskan

Pelajari ilmu rumah tangga… Agar kita lebih bersedia

Menuju hari yang bahagia

Kau tahu kumerinduimu..

Kutahu kau mencintaiku, oh..kasih..

Bersabarlah sayang, saat indah kan menjelma jua..

Kita akan disatukan dengan ikatan pernikahan oh.. kasih..

Disana kita bina… Tulus cinta mahligai bahgia

Semoga cinta kita.. didalam ridho ilahi

Berdoalah selalu semoga jodoh berpanjangan..

( Edcoustic : nantikanku dibatas waktu )

Dikedalaman hatiku

tersembunyi harapan yang suci

tak perlu engkau menyangsikan

lewat keshalihanmu,

yang terukir menghiasi dirimu

tak perlu dengan katakata

sungguh walau ku kelu

tuk mengungkapkan perasaanku,

namun penantiannmu pada diriku

jangan salahkan,,,

kalau memang kau pilihkan daku

tunggu sampai aku datang

nanti kubawa kau pergi kesyurga abadi

kini belumlah sa’atnya aku membalas cintamu…

nantikanku dibatas waktu..

”Nantikanku dibatas waktu, ukhti Candy” tak sengaja aku mengucapkan kata itu. Astagfirullah. Kenapa aku berfikir sejauh ini, Tanpa sadar, air mataku meleleh mengalir membasahi pipi, ya, allah, dengan ke-Maha indahan-Mu, dengan kasih dan sayang-Mu, dzat penguasa alam yang menggenggam hati-hati manusia, Maha mencintai…. jika benar ini cinta datangnya dari-Mu maka halalkanlah cinta hamba, mudahkanlah hamba mendapatkan cintanya, jadikan cintaku kepadanya wujud cintaku juga kepada-Mu, ya Allah, jangan jadikan hamba menjadi manusia-manusia yang durhaka karena cinta, jangan jadikan hamba menjadi hamba yang terbakar cinta dunia dan seisinya, lindungilah hamba dari cinta-cinta nafsu. Hanya ridho dan kasih sayang-Mulah hamba berharap. Kabulkanlah ya Allah. Suasanapun menjadi teduh, jarum jam merangkak terus. Jam 23.00. sudah malam, keheningan malam kian terasa, seiring lelehan air mata yang berbuah luapan asmara yang begitu besar. Luapan cinta. Membanjiri relung-relung hati yang sedang bergelora oleh cinta. Kerinduan bercampur, rindu kepada sang pencipta dan Rindu kepada Ciptaan-Nya. Kaset Nasyid yang kuputar berhenti, akupun perlahan mulai mengantuk dan akhirnya tertidur, bermimpi dengan bidadari – bidadari syurga. Dengan keindahan yang tak terkira.

Aya sms masuk, ujang aya sms masuk… berkali-kali bunyi hape terdengar, ” uwh!!, siapa sih malam – malam sms, sebelum membaca sms, kulihat jam…, apa?!! Jam 04.00. rasanya baru saja aku tidur masa sudah jam empat, huh, kayak di dongeng saja. Aku gak tahajjud!! ” ini lagi siapa pagi-pagi buta gini kirim sms, apa gak ada kerjaan.” Dengan perasaan dongkol aku memaki-maki sendiri, lalu ku buka sms yang masuk tadi.

 

Assalamu’alaikum Aris yg sholeh. Af1.aq sdh m’ngganggumu. Sblmny aq jg minta m’af ats klancangnq, krn tlh mengirim sms kpdmu. Ini sms yg ke2 yg ku krm.Km psti pnasaran, aq th dr tmn2mu.Km mcari th sapa pngirim sms itu. Sms ini jg sbg pnyembuh hatiq, aq tdk bs mlupaknmu,aq tdk bs mnahan prasaanku pdmu.Aq mncintaimu. Skrg km klwr,dipintu gerbang da spcuk srt drku,km akn th smuany. Semuany. dan sapa aq sbenarny.

Wassalam

Sms misterius! Surat? Malam begini ada surat didepan rumah. Aku semakin penasaran, lalu aku langsung keluar. Benar juga, sebuah amplop terselip di besi-besi grasi mobil. ”Masyaallah, nekat benar nih akhwat” gumamku, lalu aku mengambilnya. Sambil jalan menuju kamar, hatiku bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang ini. Sesampainya di kamar aku buka perlahan-lahan, sepucuk surat dengan kertas berwarna pink. Tulisannya indah sekali. Lalu kubaca:

Bogor, 17 Agustus 2007

Kepada hamba yang senatiasa bersujud.

di-

Hamparan sajadah

Assalamu ’alaikum warahmatulalhi wabarakatuhu.

Semoga Allah selalu melindungimu hari ini dan hari-hari yang akan datang. Tak henti aku memohon ma’af, yang sebenarnya tak perlu kau memaafkan aku. Dalam kegelapan malam aku tulis surat ini, sebagai bukti tulusnya rasa yang selalu mengejar jiwa sanubariku. Setiap malam aku selalu menangis. Meratapi dan merenungi. Selalu dan selalu. Tentu saja kamu merasa bingung dan penasaran, siapa aku sebenarnya. Aku bukanlah makhluk misterius yang bisa saja kau bayangkan, karena aku nyata, aku selalu disisimu.

Aris yang kucinta karena Allah, sejak aku mengenalmu, sejak aku melihatmu, dan sejak itulah bunga-bunga dalam dada ini merekah indah, harum dan mewangi. Sampai aku lupa, sesuatu telah terjadi pada jiwaku. Kesholehanmu telah menawan hatiku, tutur katamu menyirami tanaman-tanaman hijau di hatiku, sorot matamu tajam, menggetarkan jiwaku, Jiwa yang kupelihara kebersihan dan kesuciannya. Entah ini dosa atau tidak. Aku sudah terbius oleh harapan yang semakin lama-semakin terlena. Tapi bukankah Dia yang menciptakan perasaan kasih sayang? Bukankah Allah maha Mencintai hamba-hamba-Nya. Begitupun aku yang telah marasa resapan embun cinta. Syurga cinta telah nampak dipelupuk mata. Sa’at itulah, hari-hariku bahagia. Namun, untuk menggapai cinta sejati tidaklah mudah. Aku menguatkan diri, walaupun akhirnya aku terjatuh dan terjatuh. Perjuangan cinta yang kupendam selama dua tahun tidak juga berbuah, aku menangis, selalu menangis. Perjuangan jauh yang kutempuh akhirnya sampai disini. Perjuangan untuk bisa lebih dekat denganmu, akhirnya tercapai. Aku melanjutkan kuliahku dari D3 ke S1. ( kamu mungkin sudah dapat mengetahui siapa aku ?? ) semua ini hanya mengharap cintamu dan kesucian jiwaku. Kini, aku sudah dekat denganmu. Perjuanganku selama ini telah menghantarkanku kesisimu. Walaupun aku tidak bisa memaksamu untuk saling membagi cintamu padaku. Hanya saja, kecemasan masih menyelimutiku. Apa yang akan terjadi bila cinta yang kumiliki tidak mampu memasuki relung hatimu.

Aris kini kau tahu siapa aku sebenarnya. Kini kau mengerti kenapa aku disini. Hanya kaulah yang bisa mewujudkan semua usaha yang aku jalani. Namun, semua ini aku kembalikan kepadamu, kaulah yang memutuskan. Aku hanya bisa pasrah. Aku mencintaimu. Cinta karena Allah rabbul izati. Bagaimana denganmu? Aku tunggu balasannya. Ma’afkan kedhoifanku.

Wassalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Yang merindukanmu.

( candy Indriastuti )

 

 

Subhanallah, bagaikan kejatuahan bintang dari langit. Sejuta asa menyelimuti hati. Perasaan mengharu biru. Merangsang kepenatan jiwa yang merindukan ketenangan dan ketentraman. Sesaat terdiam. menatap langit-langit kamar. Penuh dengan bunga.. bunga-bunga cinta. Semua yang aku lamunkan selama ini telah Allah gantikan dengan Hadiah yang sungguh luar biasa. Tapi, aku tidak bisa menerima semua ini dengan hawa nafsu.

Siangnya kuputuskan bertemu dengan guru ngajiku. Ust. Hendrik, meminta pendapat dan nasehatnya.

” ust, ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan “ kataku pada ust. Hendrik, Dengan suara terputus-putus dan bergetar.

” Tafadhol’ Aris, ada apa?? “. Jawabnya

“ beberapa hari yang lalu ada akhwat, membuat pengakuan yang membuat saya merasa risi dan….ma’af, saya juga merasa bingung, akhwat tersebut mengatakan dalam sms nya bahwa ia jatuh cinta pada saya. Sedangkan saya tidak tahu siapa dia ” Ust. hendrik nampak terkejut, tapi, Ia berusaha tetap tenang. “ Sabar Aris, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang antum bayangkan.” Ust. hendrik mencoba menenangkan perasaanku. “ Ma’af…saya tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Akhwat itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat saya sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab saya sebagai muslim sejati, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, saya hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah islam “. Kataku mencoba membela keimanan.

“ Ya sudah…saya berharap antum tetap istiqamah dengan kenyataan ini, saya tidak ingin kehilangan aktivis dakwah oleh permasalahan seperti ini “.

Ust. hendrik membuat keputusan, “ tapi, ust… Subuh tadi dia mengirim sms lagi dan kali ini disertai surat yang menjelaskan semuanya, dan ternyata akhwat itu saya kenal… “ sejenak aku berhenti, menyusun kata-kata yang tepat, lalu meneruskannya ” dan, akhwat tersebut ternyata yang belakangan ini telah membuat saya jatuh hati, subuh tadi saya benar-banar bahagia, karena saya mencintai akhwat yang selama ini dia pun memendam perasaan rindu…ma’af ust. Setelah saya fikir kembali, seharusnya hal ini tidak terjadi.. gimana menurut ust.?? “. Jelasku dengan perasaan tak tenang, dan perasaan malu.

” kamu sudah tahu sendiri bagaimana islam mengatur semua ini. saya tidak menyalahkan perasaan kalian. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan saya adalah, apakah kalian sudah siap ketika saling menyatakan perasaan itu. Apakah akhwat tersebut mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak kamu?. Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah akhwat itu telah menyampaikan perasaannya kepada ustzah dia untuk melakukan proses yang diseriuskan?. Apakah kamu dan dia sudah siap berkeluarga. Apakah kalian sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari sikap kalian, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah????, Aris.. bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah, dan
jaminan kemuliaan Allah SWT.
Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan…” aku merasa malu. Keluar keringat dingin dari seluruh kujur tubuhku, lalu Ust. Hendik mengatakan kalau seandainya sudah siap untuk menikah, nanti akan disampaikan ke akhwat tersebut. lalu aku sampaikan bahwa akhwat itu adalah Rany, yang sa’at ini sedang mengikuti pengajiaan ustadzah Ririn, sahabat dekat istri ust. Hendrik. ” ya, sudah kamu tunggu kabar lagi aja mudah-mudahan allah memberi keluasan dan kemudahan ” tutur ustadz. Hendrik memberikan kelegaan dalam hati.

***

Di sepertiga malam ini sangatlah tepat aku tuliskan sebuah jawaban nafas-nafas cinta yang sedang melanda Candy. Akupun bertakbir. Melantunkan ayat – ayat cinta di malam ini. Disa’at semua orang terlelap dalam nikmatnya malam. Namun aku yakin dia selalu bertasbih di kegelapan malam dengan sujudnya yang suci. Secarik kertas putih ku lukis dengan kata-kata cinta. Untuk seorang hamba yang mencintai dan aku cintai, cinta karena Allah.

Bogor, 18 Agustus 2007

Kepada bunga mawar yang mewangi.

Di -

Alam kerinduan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu..

Candy. Seandainya, semilirnya angin bisa menghampiri relung hatimu dimalam hari. Jika gelapnya malam bisa membisikkan jiwaku yang basah. Maka, dia akan senantiasa meredam gelisah dan keresahan hatimu.

Ranny. Yang kau rasakan sekarang adalah anugerah cinta yang Allah berikan, begitupun aku. Sungguh, tangismu dimalam hari adalah penyambung tangisku juga dimalam itu. Dalam keresahan yang sangat meresahkan.

Ranny. Yang kau rasakan adalah sama dengan apa yang hari ini dan hari-hari kemarin aku rasakan. Walaupun hatiku kelu mengatakan sebenarnya yang ku rasa. Sa’at kemarin subuh kau kirimkan surat aku tidak bisa meluapkan semua kebahagiaaanku. Tak hentinya tangisku deras membanjiri sajadah cinta yang selalu menemaniku. Namun, aku takut. Takut sekali. Ketakutan yang bercampur dengan kerinduan yang sempurna.

Ukhti, bukankah cinta yang hadir dalam hati kita hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya, bukankah kita hanya di suruh untuk mencintai dan menyayangi orang-orang yang mahram dengan kita?

Ukhti, surat ini kutulis dengan lelehan air mata, dimalam yang penuh rahmat. Sa’at para malaikat turun memberikan selamat kepada hamba-hamba-Nya. Kutulis surat ini dengan penuh cinta. Dengan penuh ketakutan dan pengharapan.

Ukhti, kegelisahan dan keresahan sejak menatap sorot matamu yang indah tidak dapat saya lupakan. Keindahan pandanganmu penuh sejuta makna.

Diakhir kalimat ini. hanya rangkaian kata yang mampu saya sampaikan. Mudah-mudahan menjadi kebaikan dan terhindar dari kemurkaan. Sungguh dalam hati yang paling dalam, getaran kesejukan cinta telah bersemayam dihati. Sebenarnya ” aku pun cinta sama kamu.” Tapi, cinta yang kuharapkan darimu bukan sekedar cinta semu.

Ukhti, jika kau bersedia menjadi istriku. maka, cinta kita bisa hidup menghisasi.hari-hari kita. Tapi, jika cinta dan kasihmu hanya sebatas semu belaka. Maka, tidak ada waktu untuk melayani cinta ukhti terhadapku. Setelah membaca surat dari ukhti, saya langsung menemui ustadz Hendrik, saya tsiqoh terhadap beliau makanya siang kemarin semua yang terjadi diantara kita saya sampaikan, keputusannya beliau akan meminta kepada ustadzah Ririn untuk meminta kejelasanmu terhadap cinta yang kau rasakan terhadapku.

Ukhti, setelah menerima surat ini kak Aris mengharapkan ukhti segera membalasnya, bersedia atau tidak menjadi istri kak Aris. Jika bersedia maka sampaikan kesiapan ukhti sama Ustadzah Ririn, setelah itu sesegera mungkin kak Aris akan meminta izin kepada Orang tua untuk melamar ukhti. Mudah-mudahan ini menjadi kebaikan buat kita.

Apabila ada kesalahan dan kekhilafan kak Aris mohon ma’af yang sebesar – besarnya.

Wassalammu’alaikum wr. Wb.

( Aris Taufiqurrahman )

***

Seketika mata ustadz Hendrik itu berbinar senang seraya menatapku. Murid pengajiannya. Seraya berkata, ” selamat Aris, ternyata pilihanmu sangat tepat, Rany adalah akhwat yang sholehah, setelah aku mendapatkan informasi dari ustadzah Ririn ternyata Candy akhwat yang pantas kau nikahi, dengan ini pula aku kirimkan kabar kesediaannya untuk menikah denganmu.. segeralah kau minta izin kepada orangtuamu dan orangtua Candy, mudah-mudahan kau direstui..” mendengar kabar ustadz yang kusayangi, dunia terasa berbunga, menghiasi awan yang semakin cerah, yang semakin indah, belaian kerinduan semakin membuncah. Sejurus aku bergegas. ” baiklah ustadz. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang sebsar-besarnya atas bantuan ustadz selama ini.. ”.

Hari-haripun kuisi dengan melobi orangtuaku… begitupun Candy menemui orangtuanya di Bandung. Semuanya berjalan lancar. Semuanya indah, tidak ada kekhawatiran dan ganjalan. Semua mendukung pernikahan kami. Waktupun berlalu dalam guliran usia. Seiring itu pula, alunan bacaan al Qur‘an semakin terdengar merdu dan syahdu. Hampir setiap saat, aku selalu bersama mush-haf al Qur‘an kecil yang tak pernah jauh dari sisiku. Menjelang saat pernikahan, aku memang semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ibadah wajib bahkan sunnat pun tampak semakin khusyuk dilakukan. Aku dan dia telah bertekad untuk melangsungkan pernikahan. ini prosesi yang sakral. Hanya sekali seumur hidup. Ah, Ranny sebentar lagi kau akan menjadi istriku. Aku akan mengasihimu dengan sepenuh hati. Sebelum kau pergi ke sang pencipta. Kau akan ku kasihi, akan kubelai dengan lembut, wahai belahan jiwaku. Aku tidak akan membuatmu bersedih hati. Wahai bidadariku.. didunia maupun diakhirat..

” enam hari lagi ” gumamku. Aku maupun Candy siap bersibuk mempersiapkan acara yang akan kami gelar, yaitu akad nikah dilanjutkan resepsi walimatul ’ursy. Sahabat-sahabatku juga tak lelah membantuku. Walaupun acaranya sederhana akan tetapi ternyata persiapannya cukup melelahkan. Rencannya kami akan menggelar resepsi di gedung PPIB ( Pusat Pengembangan Islam Bogor ) kenapa kami memilih disana? Karena aku fikir letaknya yang strategis, dekat dengan pintu tol Jagorawi. Yang akan memudahkan keluargaku yang dari Sukabumi dan Candy dari Bandung.

Hari-hari yang melelahkan. Tapi bagiku ini membahagiakan, memang jika kita bekerja, jika kita melaksanakan suatu amanah atau sesuatu. jika dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan tanpa paksaan sungguh lezat sekali rasanya. Berbeda dengan orang yang melakukan sesuatu dengan imbalan atau biasa kita sebut dengan ada udang di balik batu. Akan terasa berat dirasa. Ya, mungkin ini karena aku aja yang merasakan, karena aku sendiri yang akan menikah. Melihat sisi dari pernikahan bagiku bukan hanya sebatas memenuhi nafsu manusiawi saja, akantetapi sebuah acara yang sakral dan sebuah wujud cinta kita kepada Rasulullah saw. Karena dengan begitu kita mengikuti sunnah rasul yang mulia. Ini kewajiban yang menyenangkan. Sujud syukur. Sebentar lagi aku akan menyempurnakan dienku yang agung. sebagian orang sering mengatakan ini.

Aya sms masuk, ujang aya sms masuk…

“ Ada sms “ gumaamku. “ Dari Candy..!! “

“Assalammu’alaikum wr. Wb. sepanjang perjalannaku menuju rumah. Air mataku tak henti-hentinya mengucur dan meleleh di pipi. Kebahagiaan yang hakiki sesaat lagi akan kureguk. Keimanan yang kujaga dengan cinta akan berbuah menjadi mutiara yang indah. Menyongsong kehidupan yang baru. Untuk keindahan selamanya.. selamanya…. =) ”

Pengirim :

Candy

085694451248

Pusat pesan: +00251420828

Dikirim :

25 September 2007

09.10

Akupun menjadi termenung. Memaknai kalimat-kalimat yang dikirim oleh Candy. Calon bidadariku. Ada sebuah kejanggalan dari pesan singkat yang ia kirim kali ini. Kenapa ” sms nya seperti ini, aku harus segera membalasnya” gumamku. Lalu secepatnya aku membalasnya. ” De Candy, ada apa? Kenapa sms seperti itu?? Kamu sekarang ada dimana? ” dengan perasaan risih kukirim balasannya, menanyakan maksud sms Candy, lalu kutekan tombol kirim.ok!

Tapi, pengiriman pesan gagal. Ah, sial! gak ada sinyal. Kucoba beberapa kali lagi, akantetapi tetap tidak bisa. Kucoba menelpon. Tetap tidak bisa. Ada apa ini??

Beberapa sa’at kemudian, ada sms masuk lagi. ”oh, dari Candy lagi… ” ucapku.

” sayang, ku do’a-kan kau selalu bahagia. Hari ini dan hari – hari yang akan datang. Ma’afkan kesalahan-kesalahan ku selama ini. Sayang, aku tunggu kamu di negri yang tidak ada manusia mengganggu kebahagiaan kita. Disanalah kita bangun istana kebahagiaan ”

ada apa ini, kenapa sms nya seperti ini dan kenapa tadi aku sms dan telepon tidak nyambung. Tanda tanya besar hinggap dibenakku.

Tidak lama kemudian Hpku berbunyi kembali, kuperhatikan, nomor yang memanggil ternyata nomor yang tidak dikenal. ” hallo, Assalamu’alaikum. Bisa bicara dengan bapak Aris?? ” suara lelaki yang tak kukenal suaranya. ” iya, saya sendiri, ma’af bapak siapa ya?? Ada yang bisa saya bantu. ” jawabku, Dengan perasaan tidak tenang. ” sebelumnya kami mohon bapak bisa bersabar ya pak. Kami dari kepolisian lalu lintas. Sekarang kami berada di jalan puncak Bogor-Jakarta.” jelas lelaki yang ternyata dari kepolissian. ” polisi lalu lintas???, apa hubungannya dengan saya pak??!! ” tanyaku dengan nada kaget bercampur tidak sabar. ” ma’af pak. Disini terjadi kecelakaan Bis dari Baranangsiang menuju Bandung, Bis ini terlempar kejurang sa’at akan berbelok, kejadian ini terjadi satu jam yang lalu tepatnya jam 08.00. ” jam 8…!” fikirku. ” penumpang semuanya tewas, hanya 2 anak-anak dan 1 bayi yang masih hidup… ”

” lalu apa hubungannya dengan saya pak?? ” tanyaku memotong penjelasan polisi tersebut dengan nada kesal bercampur takut dan khawatir. ” sekali lagi kami mohon bapak dapat bersabar dan menguatkan diri. Karena, salah satu dari penumpang tersebut terdapat seorang wanita yang sedang memegang selendang bertuliskan: Aris Taufiqurrahman dengan nomor handphone ini. kami yakin wanita ini adalah saudara, anak atau istri bapak. Dari KTP yang kami ambil dari dompetnya, tertera namanya CANDY INDRI ASTUTI kelahiran Bandung, sebagai mahasiswi di Bogor ” bagaikan mendengar petir ditelinga, dunia terasa berhenti berputar, nafas terasa sesak, tak dapat mengeluarkan satu patah katapun, semuanya bergemuruh. Lemas tak berdaya. ”Can.. Candy… tidak … calon istriku… bidadariku… Tidak Mungkin!!! Bapak pasti salah. Beberapa menit yang lalu dia sms, dua kali!! ” dengan sedikit tidak yakin bercampur perasaan takut yang sangat.. ” tapi pak, semuanya sudah jelas.. selendang yang dipegang dengan nama dan no HP bapak, gaun serta kerudung yang dia kenakan, apa bapak masih belum percaya?? ” jelas polisi tersebut meyakinkanku. Akupun tak dapat menahan kesedihanku… dengan penjelasan yang sangat jelas, akhirnya aku mempercayainya.. ” Ya allah… ini tidak mungkin. Candy. Innalillahi wa innalillahi raji’un ” seakan berteriak, air mata deras mengalir.. aku tak tahan lagi menerima kabar yang seakan mimpi ini. ” pak Aris, tabah ya pak!! Kami turut berbela sungkawa atas kejadian ini. Selain itu, kami juga menemukan beberapa keanehan yang terjadi sama.. ma’af! calon istri bapak. Ketika kami temukan, wajahnya begitu ceria dan tampak indah, bibirnya seakan tersenyum, memancarkan cahaya. Dan, kedua belah tangannya berada diatas dadanya. Layaknya orang yang sedang sholat. Anehnya lagi, tidak ada luka sedikitpun ditubuhnya, nampaknya ia terlempar jauh dari bis itu jatuh, tidak seperti penumpang lainnya yang tewas, sampai tertimpa badan bis. Bunga-bunga disisinya seakan mekar mewangi… Semerbak… Bau wangi menyeruak dan merebak, harum bagaikan khas keharuman sebuah kamar mempelai yang akan mereguk cinta di malam pertama..” jelas polisi itu, dengan mantap dan terdengar parau dan bergetar. aku hanya terdiam, diam seribu bahasa.

Ya allah, apakah cintaku hanya dibatas waktu..???

***

—– Senin, 30 juli 2007, 21.30

  Mohon ma’af seandainya ada nama, tempat atau kejadian yang sama, semua ini hanya fiksi belaka, walaupun ada kemiripan dari nama ataupun kisahnya, semua ini hanya kebetulan belaka. Kita ambil hikmahnya saja.

Wallahu, ’alam bishwab.

h1

Kisah seorang pencari kerja

August 21, 2007



Iwan. Sahabatku waktu SMP. Sudah lima tahun aku tidak berjumpa dengan dia. Suatu ketika dia datang kerumah. Aku mengenalnya sebagai seorang yang pemalu dan pendiam. Namun, dibalik sifat pemalu dan pendiamnya itu dia dikenal sebagai bintang kelas, semasa SD dan SMP dia tergolong orang yang berprestasi, cerdas, dan pintar. Bayangkan nilai Ebtanasnya saja tertinggi diantara teman-temannya, Orangnya baik dan sopan. Orang yang mengenalnya dengan baik pasti menghormatinya. Setelah keluar dari SMP kami jarang bertemu. Paling hanya ketemu sesekali di jalan.

Iwan hanya mampu meneruskan belajarnya sampai SLTA. Keinginannya untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi tidak kesampaian, terbentur masalah klasik yang kian menjerit, yaitu, finansial. Sa’at temanku datang kerumah, penampilannya berubah, raut wajahnya terlihat muram, pakaiannya kusut dengan tubuh lemas dan tak bergairah, kurus. seperti biasa menyambut sahabat. Kedatangan Iwan kusambut dengan wajah ceria, senyum dan sapaan cinta penuh keikhlasan. Kupersilahkan masuk dan kusediakan jamuan ala kadarnya. Air minum dan snack yang kucampur satu piring dengan dua bungkus roti. Ya, seharusnya aku lebih memuliakan tamu, Bukankah Rasulullah saw dan para sahabat mencontohkan agar kita memuliakan tamu?

Percakapan kami pun berjalan penuh keakraban. Saling bercerita tentang kehidupan, saling cerita tentang cerita persahabatan. Kenangan masa lalu tak bisa kusembunyikan, semuanya jadi terbuka, mengalir begitu saja. Suka dan duka semasa SMP bagaikan kejadian kemarin saja. Terlebih sa’at Iwan bercerita dan akupun menyambung ceritanya.. semuanya tampak nyata, sa’at ada hal lucu yang kami alami kami pun tertawa. Wah, betapa mudahnya mengingat masa lalu. Dan aku semakin yakin bahwa betapa mudahnya Allah jika mengulang kembali semua memori kita selama di dunia. Makanya, Allah memberikan hari berbangkit untuk mengulng kembali hari-hari yang silam selama di dunia.

Setelah kami bernostalgia, aku mulai menanyakan aktifitasnya selama ini.

” justru maksud kedatanganku kemari, ingin mengisi kekosongan selama ini… ” tutur Iwan. ” setelah lulus saya tidak langsug bekerja, sehari – harinya hanya dirumah, tidak ada yang dapat saya lakukan. Baru beberapa bulan setelah itu ada tetangga yang mengajak kerja, itu juga sebagai Buruh bangunan. Kamu tahu sendiri, buruh bangunan capeknya minta ampun. Pagi berangkat, sore pulang. Seharian terpanggang oleh panasnya matahari. Lihat saja tanganku ini. Hitam. ” tutur Iwan sambil memperlihatkan tangan dan kulitnya. Hitam. ” kamu jangan kayak aku, jadi kuli bangunan. Masa depan suram. Pekerjaan berat. Semua orang pasti tahu kerja bangunan itu seperti apa, memikul batu, besi, kayu, semen dan barang-barang berat lainnya… ” ” terus sampai sekarang kamu jadi kuli bangunan?? ” tanyaku, memotong pembicaraannya. ” tidak… jadi kuli bangunan hanya berjalan beberapa bulan saja. Ya, itu tadi buruh bangunan tidak memiliki pekerjaan yang tetap, hanya sewaktu-waktu saja. Sekarang aku jadi pengangguran. Sudah cukup lama. Nyari kerja memang susah. Ya, mungkin kamu punya kenalan buat aku kerja??, kamu sih enak bisa kuliah. Masa depanmu sudah terlihat jelas. Sedangkan aku, masa depanku suram. Jangankan untuk masa depan untuk sa’at ini aja susahnya minta ampun. Usaha yang aku lakukan sih sudah maksimal. Aku nyari pekerjaan kesana kemari tapi hasilnya nihil, beberapa kali ikutan test masuk perusahaan tapi tidak diterima. Pengalamanku mencari kerja sudah banyak. Kamu tahu tidak, Zaman sekarang untuk mencari kerja benar-benar harus ada orang dalam. Pernah suatu ketika aku ikut test masuk kerja. Sa’at itu aku sudah optimis banget, karena aku yakin semua jawaban yang aku berikan benar. Tapi, hasilnya tetap saja tidak masuk. Malah ada seorang peserta test yang sa’at itu dia secara terus terang kepadaku, bahwa selama mengisi test tidak di isi dengan serius. Malah dia mengatakan test itu hanya formalitas saja. Dia percaya dia akan diterima karena sudah ada orang dalam. Memang benar, sa’at pengumuman dilakukan ternyata dia bisa masuk. Setelah kuketahui orang dalam itu ternyata pamannya yang di perusahaan tersebut sebagai supervisor. Aku jadi kecewa, kecewa akan ketidakadilan ini. Kamu tahu sendiri, aku mencari kerja bukan untuk menumpuk harta benda, tapi untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari orangtuaku. Sa’at ini juga aku masih memiliki hutang ke tetanggaku, aku meminjam uang untuk pergi mencari kerja, yang hasilnya bukan uang yang kudapat tapi malah menumpuk hutang…” tutur Iwan dengan panjang lebar, sekilas ku lihat wajahnya yang sayu, penuh kesedihan. ” Kamu sabar ya… wan, mungkin Allah swt sedang menguji kesabaranmu. Aku yakin di hari nanti akan datang kemudahan yang bisa kau nikmati, bukankah Allah swt berfirman bahwa sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan, sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan. Percaya deh.. aku juga tidak bisa berbuat banyak, maklum aku juga masih mahasiswa, hanya bisa memberikan support dan nasehat saja..” kataku, sambil menenangkan hati Iwan.

h1

Hello world!

August 21, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!